Ketika Ramadhan, istri biasanya akan disibukkan dengan beragam tugas spesial, mulai dari menyiapkan hidangan sahur, berbuka puasa, atau kegiatan ibadah lainnya. Sungguh mulia pengorbanan istri yang dengan ikhlas menjalankannya.
Melayani suami adalah tugas utama seorang istri. Apalagi ketika bulan puasa tiba, perubahan jadwal harian menuntut untuk lebih cerdas mengatur waktu.
Selain menyiapkan makanan sahur dan berbuka, jika memungkinkan istri bisa ikut beribadah di masjid, melaksanakan shalat Tawarih dan tadarus al-Qur’an.
Namun, merapikan rumah dan mempercantik diri untuk menyambut suami pulang tarawih juga tidak kalah utama. Apalagi selama berpuasa seharian, aktivitas suami istri cenderung berkurang atau terbatas. Ketika malam tiba, suami biasanya ingin bisa lebih lama bercumbu dan bermesraan dengan istri.
Aktivitas malam setelah menahan diri di siang hari adalah aktivitas yang penuh gairah. Menemani suami di malam hari bulan Ramadhan, selain untuk melepas kerinduan adalah untuk mengamalkan anjuran al-Qur’an. Bagi keduanya ganjaran pahala yang besar karena telah menghalalkan apa yang Allah SWT halalkan.
“Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri–istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu, Allah SWT mengampunimu dan memaafkanmu. Sekarang, campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah SWT, makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.” (QS al-Baqarah [2]: 187)
Begitu mulia pengorbanan istri yang rela disibukkan dengan tugas dan kewajibannya. Menurut Pakar Parenting Nabawiyah Budi Ashari Lc, “Jika kita mengeluarkan isi al-Qur’an, semua kisah tentang wanita mulia, lebih diutamakan berbicara soal kepribadian wanita, sosok seorang ibu, dan istri. Sedikit sekali ayat yang berbicara soal sosial.”
Karena itu, janganlah wanita hanya sibuk bersosialita, lantas melupakan kodratnya sebagai seorang ibu dan istri. Sekarang banyak sekali kesalahan fatal, para ibu merasa sangat bangga memiliki banyak aktivitas di luar. Sedangkan keluarganya ditelantarkan di rumah.
Apakah hal tersebut dibenarkan? Tentu tidak.
“Ummu Salamah ra. misalnya, membaca kiprahnya di masyarakat memang tidak sekaliber Aisyah RA. Mengapa? Karena Ummu Salamah RA memiliki banyak anak, berbeda dengan Aisyah RA yang tidak memiliki anak,” jelas ayah tiga anak ini.
Dalam surah al-Ahzab ayat 33 misalnya disebutkan, menetaplah kalian para wanita di rumah kalian.
Sayang, ketika ayat itu disampaikan, masih banyak wanita yang menolaknya. Karena itu, seorang istri yang ikhlas berkorban waktu dan tenaga untuk melayani keluarga, maka baginya surga.
Apalagi di bulan Ramadhan, seluruh amalan dilipatgandakan hingga sepuluh hari terakhir.
Kala itu, para istri bisa kembali bergerilya mendulang pahala dengan membantu melayani suami yang mau beriktikaf di masjid. Istri dapat membantu menyiapkan perbekalan iktikaf, menjaga harta suami, dan mengurusi anak-anak di rumah.
Jika hal itu dilakukannya, niscaya baginya pahala yang tak terkira. Begitu agung dan
besar ganjaran bagi para istri yang siap siaga melayani suami di bulan Ramadhan. Meski dengan keterbatasan fisik karena berpuasa di siang hari, namun tetap siap menjadi bidadari bagi suaminya di malam hari. [Edithya Miranti]




















