Mereka darah biru.
Keluarga terhormat. Keturunan Sultan Cirebon dan Kiai Tegalsari. Tanahnya luas, hartanya banyak,
tapi begitu warisan dunia datang,
tiga Trimurti itu sepakat bulat:
“Semua ini bukan milik kita.
Semua ini kita wakafkan.
Seratus persen untuk Gontor,
Seratus persen, untuk pesantren.
Seratus persen, untuk umat.
Seratus persen, untuk Allah.”
Betapa jernih jiwa mereka.
Sungguh tak mudah mencari bandingannya,
ketika manusia lain berlari mengejar dunia,
mereka justru menyerahkan dunia,
demi abadinya perjuangan di akhirat kelak.
Dalam keseharian,
hidup mereka sungguh bersahaja dan sederhana.
Bahkan di mimbar mereka berani berkata dengan ikhlas:
“Jika tempat tidurku lebih empuk dari santriku,
silakan protes!
Jika makanku lebih lezat dari makannya santri,
silakan demo!”
Kalimat yang terdengar ringan,
namun sebenarnya sumpah ketulusan,
janji kesetiaan pada misi perjuangan.
Kadang, di tengah kemampuan untuk membeli apa saja yang beliau mau.
Mereka meminta nasi tiwul hitam yang terbuat dari Singkong,
sayur tempe besengèk sederhana.
Mereka mampu membeli mobil paling mewah
—Impala, yang kala itu jadi simbol prestise—
namun mereka memilih mobil Sena,
mobil kecil sederhana,
dan itupun sering dipakai bukan untuk kesenangan pribadi,
melainkan untuk kepentingan pesantren.
Mereka mengajarkan,
bahwa kepemilikan hanyalah titipan Tuhan,
kemewahan hanyalah bayangan semu.
Kenikmatan duniawi hanyalah fatamorgana.
Santri-santri sering melihat pemandangan indah yang tak biasa:
Pak Sahal mengenakan jas belèl warnanya sudah pudar,
Sering tidur di atas kursi rotan yang reyot.
Pak Zar memakai baju sederhana yang kerahnya hampir putus dimakan usia.
Handuk kecil yang robek, masih dipakai.
Suatu hari, ketika mengangkat jemuran,
seorang santri melihat handuk tua di tangan beliau.
Dengan tenang, beliau membuka handuk itu,
sambil tersenyum lembut dan berkata:
“Nak…. handuk ini masih bisa dipakai…”
Kalimat yang singkat,
tapi sesungguhnya itu adalah dzikir,
adalah hikmah,
adalah pelajaran hidup.
Bahwa zuhud bukanlah kata-kata,
zuhud adalah gaya hidup,
zuhud adalah pilihan secara sadar,
zuhud adalah cinta sejati kepada Allah.
Mereka mengajarkan bahwa kesederhanaan
bukanlah kelemahan,
melainkan kekuatan yang murni.
Bahwa kemuliaan bukanlah pada apa yang engkau punya,
tapi pada apa yang engkau infakkan lillah.
Bahwa kekayaan sejati
bukanlah jumlah harta,
tetapi kesanggupan untuk tidak diperbudak olehnya.
Trimurti itu hidup dalam keikhlasan,
mereka wafat dalam perjuangan,
dan mereka meninggalkan pesan abadi:
“Sederhana itu bukan miskin”
“Kesederhanaan adalah mahkota sufi,
dan perjuangan adalah jalan menuju ridha Ilahi.
Selama engkau hidup,
jangan takut miskin,
takutlah jika engkau kehilangan keikhlasan.
Karena harta bisa habis,
tapi wakaf dan jiwa yang ikhlas akan kekal abadi dalam barakah Ilahi.” []
Darel Azhar 21 Agustus 2025
*Dr KH Ikhwan Hadiyyin, Khadimul Ma’had Darel Azhar Rangkasbitung, Banten






















