Harasta, Gontornews — Kesepakatan evakuasi bagi pejuang oposisi di Ghouta Timur, Suriah, telah dicapai oleh kedua belah pihak. Sekitar 7.500 orang akan dievakuasi hari ini, Kamis (22/3), ke wilayah Idlib yang dikuasai pemerintah.
Perjanjian yang diperantarai Rusia itu dicapai pada Rabu (21/3) kemarin setelah pertemuan antara delegasi pemerintah Suriah dan perwakilan warga dan pejuang di Harasta yang dikuasai kelompok oposisi terjadi.
“Orang-orang bersenjata dan warga sipil yang memilih pergi akan mendapat jaminan Rusia.” kata Munther Fares, Juru bicara kelompok Ahrar al-Sham, yang memegang Harasta, Aljazeera.
Fares juga mengatakan bagi keluarga yang ingin tetap tinggal di Harasta akan diberikan jaminan oleh pemerintah Suriah dan Rusia. Pemerintah Suriah dan Rusia menjamin tidak akan ada bahaya yang menimpa mereka.
“Bahwa kota itu tidak akan mengalami perpindahan atau perubahan demografi,” tegas Fares.
Dia juga menambahkan nantinya warga sipil di dalam dan di luar Harasta akan membentuk komite untuk menindaklanjuti masalah orang-orang yang tersisa di kota dan tahanan.
Sementara itu, Seorang anggota Dewan Harasta, mengatakan evakuasi juga dilakukan terhadap orang-orang bersenjata dan warga sipil, termasuk orang-orang yang membutuhkan bantuan medis.
Kesepakatan evakuasi menandai pertama kalinya para pejuang oposisi telah bersedia meninggalkan Ghouta Timur yang dikuasai. Wilayah yang telah menjadi sasaran serangan udara yang dilakukan oleh pasukan pemerintah Suriah dan jet tempur Rusia selama lebih dari satu bulan.
Namun, Tayyim al-Siyoufi, seorang aktivis berbasis Harasta, mengatakan meskipun perjanjian telah tercapai, para pejuang di Suriah masih harus melihat kebenaran kesepakatan ditegakkan pada waktunya dan evakuasi terjadwal.
“Apa pun bisa terjadi, dan ami berada dalam posisi yang lebih buruk daripada kota-kota lain di Ghou, kita akan melihat apakah kesepakatan itu berhasil atau tidak.” katanya.
Kota Harasta hanya berjarak dua kilometer persegi, al-Siyoufi mengatakan warga sipil merasakan beban serangan udara yang lebih intens. “Setiap hari ada 20 pesawat tempur yang melayang di atas kami, tembakan itu sekitar 200 tembakan,” katanya.[Devi Lusiana]
























