Khartoum, Gontornews — Perdana Menteri Sudan, Abdalla Hamdok, Selasa (21/12/2021), mengatakan kepada sekelompok tokoh politik dan intelektual nasional bahwa ia akan mengundurkan diri dalam beberapa jam mendatang.
Dua sumber terdekat Hamdok, yang dilansir Reuters, mengatakan bahwa kelompok yang berbicara dengan Hamdok tetap meminta ia untuk tetap berada di posisinya. Namun, Hamdok bersikeras untuk meninggalkan posisinya sebagai Perdana Menteri Sudan.
Pada 21 November lalu, posisi Hamdok telah dipulihkan pasca kudeta yang membuat militer mengambil alih kekuasaan serta mengakhiri kemitraan transisi dengan partai politik. Sementara beberapa kekuatan politik yang mengambil bagian dalam penyusunan perjanjian telah menghadapi kritik dari partai dan masyarakat umum.
Pada Sabtu (18/12/2021), ratusan ribu orang berbaris di Istana Kepresidenan menolak kepemimpinan militer seraya mendesak Hamdok untuk kembali. Hamdok menjelaskan bahwa kudeta yang melibatkan dirinya merupakan upaya untuk mempertahankan keuntungan yang dibuat selama transisi seraya menghindari pertumpahan darah.
Sekitar 47 orang tewas dalam demonstrasi terhadap pemerintahan militer. Persatuan Bangsa-bangsa (PBB), mengatakan, Selasa (21/12/2021), bahwa mereka telah menerima laporan pemerkosaan terhadap 13 wanita dan anak-anak.
Sumber dekat Hamdok mengatakan sebelumnya ia hanya akan tetap menjabat jika ia memiliki dukungan politik dan jika perjanjian tersebut ditunaikan. Ia meminta militer untuk membebaskan tahanan politik, melindungi kebebasan berekspresi dan mengizinkannya untuk menunjuk kabinet baru secara independen.
Selama akhir pekan, Hamdok mengatakan bahwa negaranya sudah berada di tepi jurang, menyalahkan ketegangan politik dan kurangnya konsensus kesepakatan politik baru. [Mohamad Deny Irawan]





















