Amman, Gontornews — Ketegangan meningkat di wilayah pendudukan Tepi Barat saat tanggal persetujuan ribuan unit permukiman baru Yahudi semakin dekat.
Peace Now, sebuah kelompok kampanye Israel, mengumumkan bahwa 4.430 unit permukiman akan disetujui pada 14 Oktober oleh Dewan Perencanaan Tinggi Administrasi Sipil Angkatan Darat Israel.
Peace Now mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Alih-alih mengambil keuntungan dari perjanjian dengan negara-negara Teluk dan mempromosikan perdamaian dengan Palestina, dia (Perdana Menteri Benjamin Netanyahu) mendistorsi prioritas Israel dan melayani minoritas pinggiran untuk persetujuan unit pemukiman ini yang akan terus merusak prospek perdamaian di masa depan.”
Mereka meminta menteri Israel untuk memveto rencana tersebut.
“Dengan melakukan itu, Israel akan memberi isyarat kepada dunia dukungan dua-partisannya untuk diakhirinya konsep solusi dua-negara dan negara Palestina – paradigma yang sampai sekarang sebagian besar melindungi Israel dari tekanan formal atas 53 tahun pendudukan. Perusahaan pemukiman bukan untuk kepentingan nasional atau keamanan Israel dan merupakan kesalahan strategis di tingkat internasional,” kata Peace Now.
Khalil Toufakji, direktur Masyarakat Studi Arab yang berbasis di Yerusalem, mengatakan kepada Arab News bahwa langkah baru Israel mengirimkan pesan-pesan yang meresahkan ke semua pihak.
“Dengan melihat lokasi unit baru, ini adalah pesan yang jelas kepada Palestina bahwa penjajah Israel tidak memiliki rencana menuju solusi dua negara,” kata Toufakji
Ia menambahkan bahwa Israel terus secara sepihak menarik perbatasan jauh ke dalam wilayah pendudukan Palestina.
“Unit baru yang direncanakan di Bitar Elite dan blok Gush Etzion berada di dalam wilayah Yerusalem yang lebih besar. Juga, unit-unit baru menargetkan wilayah lembah Yordania dan selatan Hebron, semua wilayah yang ditargetkan Israel untuk dianeksasi,” katanya.
Sementara itu, Klub Tahanan Palestina telah mengumumkan bahwa pasukan Israel menangkap 21 warga Palestina dari berbagai lokasi di Tepi Barat.
Ketegangan juga meningkat di penjara Israel karena Maher Al-Akhras, yang telah ditahan di bawah perintah administratif tanpa dakwaan atau pengadilan, telah memasuki hari ke-77 aksi mogok makan. Para pengunjuk rasa di Gaza menyerukan pembebasannya. Khaled Batash, seorang anggota politbiro Jihad Islam, memperingatkan Israel agar tidak merugikan Al-Akhras atau tahanan lainnya.
Tahanan yang tergabung dalam Front Populer telah mengancam akan memulai mogok makan tanpa batas pada hari Ahad jika otoritas penjara Israel gagal untuk menangani keluhan mereka tentang kondisi tersebut.
Di Yerusalem, polisi Israel mencegah ribuan jamaah mengakses Masjid Al-Aqsha. Pemukim yang main hakim sendiri –dalam sebuah video– tampak menyerang rumah dan membakar pertanian dan kebun Palestina saat musim memetik zaitun dimulai.
Komandan Angkatan Darat Israel di Tepi Barat mengeluarkan 63 perintah militer yang melarang warga Palestina memanen sekitar 3.000 pohon zaitun karena “dekat” dengan pemukiman Yahudi. Hanya segelintir petani yang memperoleh izin untuk berpartisipasi. []



















