Dhaka, Gontornews — Ratusan warga Bangladesh turun ke jalan seiring dengan meningkatnya angka pemerkosaan di Bangladesh, Sabtu (10/10). Demonstran meminta pemerintah untuk menghukum mati pelaku pemerkosaan serta pelaku serangan seksual.
Ketua Kelompok Hak Asasi Manusia Bangladesh, Ain-o-Salish Kendra, menjelaskan tindakan pemerkosaan sepanjang Januari hingga September hampir mencapai 1.000 kasus.
Demonstrasi ini membuat pemerintah mulai mempertimbangkan hukuman maksimal kepada pelaku pemerkosaan dan serangan seksual. Bangladesh berharap proposal untuk perubahan sanksi tegas pemerkosa akan terlaksana pada Senin (12/10) mendatang.
“Kami membuat proposal atas perintah Perdana Menteri Sheikh Hasina,” kata Menteri Hukum Bangladesh, Anisul Haq, kepada Reuters.
“Kami ingin memastikan bahwa pihak yang bersalah mendapatkan hukuman tertinggi,” sambung Anisul Haq.
Demonstrasi, Sabtu (10/10), tersebut merupakan respon dari sebuah video sekelompok pria yang menelanjangi dan menyerang seorang wanita di Noakhali. Tim Investigasi Komisi Hak Asasi Manusia Bangladesh memaparkan bahwa korban mengalami tindakan pemerkosaan selama beberapa kali dalam setahun terakhir. Bahkan, korban mengakui bahwa ia mendapat ancaman penembakan senjata oleh sebuah kelompok.
Pemicu demonstrasi lainnya adalah pemerkosaan berkelompok yang terjadi di sebuah asrama putri di distrik Sylhet.
Anisul menjelaskan jika angka pemerkosaan bisa saja meningkat andai para korban menceritakan kisahnya. Namun, mayoritas korban pemerkosaan enggan melaporkan insiden yang mereka alami tersebut.
Kalaupun ada, proses pengaduan kepada pihak terkait membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk penyelesaian masalah di pengadilan. [Mohamad Deny Irawan]
























