Pondok Modern Darussalam Gontor, Ahad (29/8/2021), merilis lagu yang berjudul “Takkan Terlupa”. Lagu yang berkisah tentang perjalanan kisah kehidupan santri Gontor yang merindukan dinamia Gontor serta pengalaman belajar menimba ilmu tersebut diciptakan oleh Rahmi Nabila Rahmadani, Alumni Gontor Putri 2016.
Dalam perjalanannya, Rahmi rela meninggalkan keyboard yang baru ia beli selepas lulus SMP agar dapat melanjutkan studinya di Pondok Modern Darussalam Gontor. Siapa sangka, bakat otodidaknya, justru muncul di Gontor Putri 3 Karangbanyu, Widodaren, tempat ia mengenyam pendidikan Gontor.
Simak wawancara wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, dengan putri kedua dari Bapak Suwardi dan Ibu Neneg Nurheni, tersebut.
Bagaimana perasaan lagu ini bisa dirilis oleh Pondok Modern Darussalam Gontor?
Alhamdulillah, sebenarnya saya tidak menyangka. Dulunya memang pernah berharap agar pesan dari lagu ini bisa tersampaikan kepada ustadz, ustadzah, terkhusus ustadzah yang membimbing kami selama di Gontor Putri 3.
Dari mana inspirasi lagu ini muncul?
Awal mula terciptanya lagu ini saat itu saya santri kelas 6 KMI yang sedang mempersiapkan Panggung Gembira. Kebetulan, saya di bagian dekorasi. Saat sedang berjalan di depan gedung Al-Azhar bersama teman, saya melihat ada banner yang berisi foto-foto ustadzah pembimbing yang dibumbui kata-kata mutiara. Saya sangat tersentuh dengan kata-kata itu. Saya yakin, mereka bukan saja berkorban tenaga, waktu tapi juga bahkan harta mereka juga ikut sumbangsihkan.
Apa sebenarnya maksud dari lirik lagu “Takkan Terlupa” ini?
Lirik lagu ini menggambarkan seorang murid yang kagum dengan sosok ustadz dan ustadzah kita yang dengan sederhana dan ikhlas selalu menasihati kita. Nasihat-nasihat itu sangat masuk hati. Ada juga lirik “maafkan atas segala kesalahan”. Lirik itu ingin menyampaikan bahwa kami sebagai santri sering membuat para guru kecewa, sering melanggar disiplin atau hal-hal yang membuat mereka sedih atau kepikiran. Akhirnya, kita pun merasa tidak bisa memberi apa-apa kecuali doa bagi mereka. Intinya, saya ingin menyampaikan jika apa yang seorang ustadz atau ustadzah berikan kepada kami, yang masih menjadi santri, tidak akan pernah terlupakan.
Bagaimana cara menyusun lagu di tengah kegiatan padat di Gontor?
Saya terbiasa membawa kutaib atau catatan kecil. Kadang, saat saya menyapu, sering kali inspirasi itu datang. Biar tidak hilang, saya selalu bawa kertas dan pulpen untuk mengumpulkan inspirasi kata supaya tidak hilang. Apakah nanti kata-kata ini cocok untuk lagu dan aransemennya begini.
Sejak kapan Anda kenal musik?
Saya kenal musik saat ada pelajaran pakai alat suling di Sekolah Dasar. Ketika pegang suling, saya pakai feeling saja dalam penggunaannya. Saya tidak ikut les tapi otodidak saja. Saat kelas 6 SD, saya minta dibelikan gitar. Waktu SMP, minta dibelikan keyboard. Sebelum masuk Gontor pun, saya mengira bahwa saya akan jadi keyboris. Hingga suatu hari, saya melihat alumni Gontor yang mampu berbahasa Arab dan Inggris. Pada titik itu, saya memutuskan untuk masuk ke Gontor.
Keyboard yang baru saya beli itu terpaksa saya tinggal demi masuk Gontor. Tapi siapa sangka, bakat saya justru semakin terasah di Gontor terutama dalam menggunakan alat keyboard.
Siapa penyanyi yang menjadi inspirasi Anda?
Iwan Fals, Ebiet G Ade. Dari luar negeri ada Jason Mraz. Genrenya yang jazz, pop simpel gitu. Easy listening. Ana juga suka sih kaya instrumental-instrumental piano, biola, gitar, dll
Kami dapat info, jika lagu ini pernah diperdengarkan langsung oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal?
Benar. Bapak pimpinan Pondok telah mendengar lagu ini saat Haflatul Wada tahun 2016. Alhamdulillah, lagu kami diperdengarkan di depan siswa akhir KMI 2016 dari semua cabang. Hanya saja, versinya masih sangat sederhana dan belum sebaik video terbaru ini.
Apa harapan dari lagu ini?
Semoga pesan dari lagu ini seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya bermanfaat. Semoga bisa terus berkarya. Semoga masih bisa berdakwah dengan cara yang lain.[]




















