Jakarta, Gontornews — Dr KH Ahmad Hidayatullah Zarkasyi MA dalam Scout Wisdom Forum World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025 telah mengulik sejumlah fakta memukau tentang keterkaitan Islam sebagai awal sejarah kepanduan dunia.
Dalam pemaparannya, Kiai Hidayatullah memaparkan, “Pramuka kita di pesantren sebetulnya asal usulnya, muaranya satu, yaitu dari bapak pramuka, bapak pandu, manusia terbaik pilihan Allah, Muhammad Rasulullah SAW.”
Secara historis empiris, begitu Rasulullah SAW wafat lalu 58 tahun kemudian (670 M) muncul jauh dari kota Madinah, di Afrika, Tunisia, sebuah tempat bernama Kairouan (al-Qayrawan). Nama Kairouan berasal dari Bahasa Persia yang berarti kemah. Kairouan adalah masjid yang digunakan untuk melanjutkan tradisi keilmuan dan kaderisasi dalam Islam.
Setelah 200 tahun berselang, di Maroko orang-orang yang tersentuh dengan Kairouan, membangun masjid yang sama untuk melanjutkan tradisi keilmuan Islam dan kaderisasi dengan mendirikan Al-Qarawiyyin, yang berarti orang asal Qayrawan. Banyak pandu-pandu yang dilahirkan dari sana, ada yang menjadi ulama maupun intelektual. Ahli kedokteran (Al-Jazaar), lalu Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, dan sekian banyak ulama lainnya juga lahir dari pergerakan tersebut.
Termasuk juga daerah Syanggit dan Andalusia, banyak ulama, pandu-pandu, yang lahir dari lembaga-lembaga kepanduan Islam tersebut. Lalu Al-Azhar, Mesir juga muncul dan membesar, bahkan sampai sekarang produktif melahirkan pandu-pandu Rasulullah SAW. Tradisi bersanad ini kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri Islam dan menjadi zawiyah-zawiyah semacam kelompok, lembaga untuk pusat pengajaran Islam, termasuk pesantren.
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam bersistem asrama, kiai sebagai central figure, masjid titik pusat yang menjiwainya, maka nasab pesantren secara Islam memiliki tradisi keilmuan dan kaderisasi umat atau kaderisasi pandu. Sedangkan tugas pandu-pandu umat ialah untuk menyelamatkan kita dunia akhirat, mengajak hidup berislam, tenang, baik, juga damai. Karena orang terbaik harus mempunyai ikatan yang baik dengan Allah dan manusia.
Nusantara mulai mengenal Islam sekitar tahun 800 M. Pada 1200 M, Islam di Nusantara terlihat lebih semarak, termasuk dengan kedatangan Wali Songo di Pulau Jawa. Kemunculan para pahlawan Islam di Indonesia seperti Imam Bonjol, Diponegoro, dan seluruh ulama pengikutinya merupakan persemaian dari pandu Rasulullah, sehingga mempunyai nasab yang jelas. Sampai Indonesia merdeka pun juga tak lepas dari jasa pandu-pandu Islam.
Lalu mengenai sejarah kepramukaan dunia yang santer disebut nasabnya diambil dari Boden Powell yaitu 1907 M. Maka jika ditarik jauh ke belakang, sejatinya umat Islam sudah mewarisi tradisi kepanduan dari Islam sejak tahun 670 M, berarti sekitar 1300 tahun lalu.
Boden Powell sendiri merupakan orang Inggris yang dulu mengembara ke Afrika. Ketika itu, ia melihat sudah ribuan kali kafilah haji datang menempuh jalur darat ribuan kilometer menuju ke Mekkah. “Ia pun menyaksikan mereka berkemah dan ketika berhenti para pemandunya sangatlah terampil, terstruktur, terprogram, dan itu semua yang dikagumi,” terang Kiai Hidayatullah yang pernah menjadi Wakil Pengasuh Pondok Gontor Putri selama 25 tahun.
Boden Powell pun heran ketika semua terselesaikan dengan rapi. Ia lantas mengambil Dasa Darma Pramuka kalimat, Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Sebagaimana kafilah saat itu orang-orang haji yang memiliki keIslaman, tazkiyatun nafs (mensucikan diri) dalam berhaji. Dan itu semua ada dalam ajaran Islam.
“Jadi asal semuanya dari sana. Mengambil dari Islam, memodifikasi, ditiru, dikepramukakan atau dipandukan,” tutup putra KH Imam Zarkasyi, Trimurti Pendiri Gontor. [Edithya Miranti]





















