Baghdad, Gontornews — Korban tewas dalam aksi protes di Iraq bertambah. Sebelumnya, sebanyak 16 orang tewas dan ratusan lainnya terluka, namun pada Kamis (3/10) kemarin bertambah empat prang termasuk petugas kepolisian, dan total tewas menjadi 20 orang.
Petugas medis di Kota Amarah menjelaskan jika keempat korban tewas termasuk petugas keamanan berada di kota tersebut. Sementara itu, tidak kurang dari 400 pengunjuk rasa lainnya mengalami luka-luka akibat tembakan dan gas air mata oleh petugas.
“Seorang pengunjuk rasa lainnya ditembak mati pada hari Kamis di provinsi Dhi Qar,” kata Abdulhussein al-Jaberi, Kepala Kesehatan Regional, Aljazeera.
Imran Khan dari Al Jazeera, melaporkan dari ibukota, bahwa kondisi di wilayah tersebut sangat mencekam. Tembakan sporadis ke arah Lapangan Tahrir terdengar keras.
“Apa yang kami dengar dari pengunjuk rasa sendiri bahwa mereka datang jam 3 sore waktu setempat (12:00 GMT) mereka akan mencoba dan mendorong menuju Tahrir Square,” kata Khan.
Demonstrasi telah dimulai di ibukota, Baghdad pada hari Selasa (1/10), sebagian besar aksi terjadi secara spontan dan tanpa kepemimpinan politik. Kebanyakan aksi dilakukan oleh pemuda yang kecewa dan menuntut pekerjaan, peningkatan layanan, seperti listrik dan air, dan mengakhiri korupsi endemik di Irak.
Demonstrasi telah menyebar ke kota-kota dan sebagian besar di wilayah selatan Syiah. Aksi menjadi tantangan paling serius bagi pemerintahan Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi yang sudah berusia setahun.
Selain itu, Di Baghdad, pihak berwenang telah memberlakukan jam malam sepanjang hari sejak Kamis pagi kemarin. Hal itu dilakukan untuk melindungi perdamaian umum dan pengunjuk rasa dari penyusup yang melakukan serangan terhadap pasukan keamanan dan properti publik.
“Kami menginginkan pekerjaan dan layanan publik yang lebih baik. Kami telah menuntut mereka selama bertahun-tahun dan pemerintah tidak pernah menanggapi,” kata Abdallah Walid, seorang pemrotes berusia 27 tahun.[Devi Lusianawati]





















