Amman, Gontornews — Presiden Suriah Bashar Assad pada hari Kamis (11/6) memberhentikan perdana menteri Imad Khamis, kata media pemerintah. Langkah ini menyusul krisis ekonomi dan meletusnya protes anti-Assad yang jarang terjadi di daerah-daerah yang dikuasai pemerintah.
Media pemerintah tidak memberikan alasan atas keputusan mendadak itu. Presiden Assad menetapkan Menteri Sumberdaya Air Hussein Arnous sebagai pengganti Khamis.
Arabnews.com merilis, Suriah sedang mengalami krisis ekonomi. Nilai mata uang jatuh ke rekor terendah dalam beberapa hari terakhir, yang memperparah kesulitan warga Suriah yang telah didera perang saudara bertahun-tahun.
Nilai mata uang pound Suriah jatuh bebas. Jika pada awal konflik 1 dolar AS setara dengan 47 pound Suriah, maka kini 1 dolar setara 3.000 pound.
Otoritas Suriah menyalahkan sanksi Barat atas kesulitan yang meluas di kalangan penduduk. Anjloknya mata uang pound Suriah menyebabkan melonjaknya harga barang-barang termasuk sembako.
Pemerintah telah mengkritik gelombang sanksi baru AS yang lebih ketat, yang dikenal sebagai Caesar Act, yang mulai berlaku akhir bulan ini yang menurut para ekonom dan politisi akan semakin mempererat ikatan di sekitar pemerintahan Assad.
Kondisi ekonomi yang memburuk membuat rakyat marah. Mereka melakukan protes kepada pemerintah dan menuntut Assad mundur. Ratusan pemrotes di Kota Sweida yang berpenduduk sebagian besar Druze turun ke jalan-jalan pekan ini.
Arnous (67) lahir di Idlib dan telah lama menjabat dalam pemerintahan, termasuk gubernur Provinsi Deir Zor yang berbatasan dengan Irak, dan Provinsi Quneitra di Suriah selatan. []






















