Yangon, Gontornews — Sejumlah warga Rohingya di Myanmar telah dibantai dan dimakamkan di lima kuburan massal, menurut sebuah penyelidikan eksklusif oleh kantor berita Associated Press.
Laporan hari Kamis itu termasuk kesaksian dua lusin korban selamat dan kerabat korban, serta rekaman ponsel bertanda waktu setelah serangan itu.
Diperkirakan 400 anggota minoritas yang teraniaya dibunuh oleh tentara Burma.
Dalam satu pembantaian, sekelompok pria Rohingya sedang menyaksikan pertandingan sepak bola lokal yang disebut ‘chinlone’ di Desa Gu Dar Pyin, saat tentara mulai menembaki mereka.
Seorang korban bernama Noor Kadir kemudian menemukan enam temannya dikubur di dua kuburan massal terpisah. Dia mengatakan bahwa mayat korban hanya dapat dikenali melalui warna celana pendeknya.
Pembunuhan massal tersebut diyakini terjadi pada 27 Agustus 2017 dan korban selamat mengatakan kepada Associated Press bahwa tentara telah mencoba untuk menutupi bukti kekejaman tersebut.
Video yang didapat oleh kantor berita itu menunjukkan usaha menggunakan asam untuk mengeluarkan mayat.
Sisa-sisa yang terdapat di dalam kuburan dangkal naik ke permukaan setelah hujan deras dan korban selamat dapat memfilmkan bukti-bukti itu.
Phil Robertson dari Human Rights mengatakan bahwa laporan tersebut “meningkatkan kesempatan bagi masyarakat internasional untuk menuntut pertanggungjawaban dari Myanmar” dan menggarisbawahi perlunya embargo senjata yang dipimpin oleh PBB ke negara tersebut.
“Laporan AP bahwa (tentara) membawa wadah asam Gu Dyar Pin untuk mengubah bentuk tubuh dan membuat identifikasi lebih sulit sangat memberatkan karena menunjukkan tingkat pra-perencanaan dari kekejaman ini,” kata Robertson.
“Ini saatnya Uni Eropa dan AS serius mengidentifikasi dan menjatuhkan sanksi terhadap komandan militer dan tentara Burma yang bertanggung jawab atas kejahatan hak-hak ini.”
Myanmar sebelumnya mengaku bertanggung jawab atas satu kuburan massal yang berisi 10 jenazah di Desa Inn Din.
Pembunuhan tersebut terjadi pada bulan September namun kuburan massal ditemukan pada bulan Desember, dan pemerintah menyebutkan bahwa mereka adalah teroris.
Amnesty International menggambarkan penemuan Desember itu sebagai “puncak gunung es”. [Rusdiono Mukri]






















