Idlib, Gontornews — Lebih dari 20 ribu warga sipil telah melarikan diri dari wilayah barat laut Suriah di Idlib ke tempat-tempat di dekat perbatasan Turki dalam dua hari terakhir, di tengah meningkatnya pemboman oleh rezim Suriah dan Rusia. Demikian dilaporkan kantor berita Anadolu yang dikelola Pemerintah Turki melaporkan pada 9 Januari.
Mohamed al-Hallaj, direktur Tim Koordinator Respons, mengatakan kepada, gelombang baru pengungsi telah terjadi selama dua hari terakhir, di tengah pemboman oleh pasukan yang bersekutu dengan rezim Bashar Assad meskipun daerah tersebut merupakan zona de-eskalasi.
Menurut data Anadolu, jumlah warga sipil yang telah mengungsi sejak November lalu telah mencapai 370 ribu jiwa.
Kamp-kamp pengungsian yang terbuat dari tenda sudah tak mampu lagi menampung jumlah pengungsi yang terus meningkat. Para pejabat mengatakan, kamp tidak memiliki cukup ruang untuk mendirikan lebih banyak tenda atau infrastruktur yang diperlukan.
Keluarga yang kehilangan tempat tinggal sangat membutuhkan tempat berlindung, tenda, selimut, dan tempat tidur.
Pada bulan September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Sejak itu, lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas dalam serangan oleh rezim dan pasukan Rusia di zona de-eskalasi ketika gencatan senjata terus dilanggar.
Lebih dari satu juta warga Suriah telah bergerak di dekat perbatasan Turki karena serangan hebat selama setahun terakhir.
Menurut Koalisi Nasional untuk Revolusi Suriah dan Pasukan Oposisi, Provinsi Idlib adalah rumah bagi sekitar 3 juta warga sipil, 75 persen di antaranya perempuan dan anak-anak.
Sejak meletusnya perang saudara berdarah di Suriah pada 2011, Turki telah menampung sekitar 3,7 juta warga Suriah yang melarikan diri dari negara mereka.
Turki sejauh ini telah menghabiskan $ 40 miliar untuk para pengungsi, menurut angka resmi. []






















