Washington DC, Gontornews — Rusia ‘dengan berani campur tangan’ dalam proses pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat tahun 2016, meskipun kepala dinas keamanan FSB diperingatkan bahwa hal itu akan merugikan hubungan AS-Rusia. Demikian kata John Brennan, mantan direktur CIA.
Brennan, saat bersaksi pada sidang Komite Perwakilan Intelijen AS pada hari Selasa (23/5), mengatakan pada musim panas lalu Rusia berusaha untuk ikut campur dalam Pilpres.
“Harus jelas bagi semua orang Rusia yang dengan berani mengintervensi dalam proses pemilihan presiden 2016 dan mereka melakukan aktivitas ini meskipun ada protes keras dan teguran eksplisit agar mereka tidak melakukannya,” katanya.
Brennan mengatakan, dialah pejabat AS pertama yang mengajukan masalah gangguan Pilpres ini kepada orang-orang Rusia, dengan menyebutkan percakapan telepon yang dia lakukan pada Agustus tahun lalu dengan kepala FSB Alexander Bortnikov.
Dia mengatakan, dalam percakapan telepon dengan Bortnikov, dia mengangkat laporan berita media mengenai upaya Rusia untuk mencampuri pemilihan tersebut. Namun pejabat Rusia itu menolak keterlibatan Moskow.
Brennan mengatakan, dia memberi tahu Presiden Barack Obama dan pejabat tinggi lainnya, dan bahwa dia membahas masalah tersebut dengan para pemimpin kongres dari Republik dan Demokrat pada bulan Agustus dan September.
Badan intelijen AS menyimpulkan pada bulan Januari bahwa Rusia mencoba untuk memajukan kampanye pemilihan presiden bulan November atas dukungan Donald Trump dari Partai Republik, termasuk membobol dan membocorkan email dari politisi senior Demokrat.
Namun Rusia selalu membantah tuduhan tersebut. [Rusdiono Mukri]

















