Jakarta, Gontornews — Mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin, mengatakan tradisi ro’an atau gotong royong merupakan istilah yang sangat dekat dengan dunia pesantren. Menurutnya, tradisi ini berangkat dari pemahaman santri bahwa kiai merupakan sosok yang memiliki ilmu, berakhlak mulia dan memiliki kekhususan ketimbang masyarakat awam.
Keberkahan dari ilmu yang dimiliki oleh kiai inilah yang kemudian diharapkan oleh setiap santri yang belajar di pondok pesantren. Karenanya, ada banyak upaya dan ikhtiar yang dilakukan untuk mendapatkan keberkahan dari seorang kiai ataupun pesantren, tempat para santri menuntut ilmu. Salah satunya membantu pembangunan fasilitas-fasilitas di pesantren.
“Karena bangunan-bangunan yang mau didirikan itu untuk kelas, asrama santri untuk hal-hal yang selalu mendatangkan kemaslahatan. Jadi, sesuatu yang mengandung manfaat, yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang, maka tentu ini pasti ada keberkahan pada bangunan-bangunan ini,” katanya saat berbicara di acara Bincang Liputan6.
“Karena suatu maslahat, sesuatu yang mendatangkan kebaikan, kebermanfaatan dan manfaatnya itu bisa dirasakan banyak orang, pasti ada keberkahan di situ,” sambungnya.
“Jangankan disuruh, tidak disuruhpun, santri itu ingin ikut berkontribusi dalam ro’an itu karena dia ingin mendapatkan keberkahan. Jadi itu pengertiannya,” tegas Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut.
Putra Menteri Agama Saifuddin Zuhri itu menambahkan, ro’an atau kerja bakti penuh dengan edukasi, bukan eksploitasi. Orang lain yang tidak memahami pesantren lalu melihat bahwa pekerjanya siswa di bawah umur, lanjutnya, akan mengatakan pekerjaan fisik seperti kerja bakti, angkut pasir, mengangkat batu bata sebagai bentuk eksploitasi.
“Tapi begini, edukasinya pertama secara fisik, itu bagian dari olahraga. Karena santri itu kan umumnya belajar terus, baca kitab, gerak itu jarang di pesantren. Maka dengan ro’an itu bagian dari olahraga. Itu saja sudah positif,” paparnya.
“Belum lagi nanti pemaknaannya bahwa mereka melakukan itu untuk orang lain, tidak hanya untuk dirinya sendiri. Bangunan itu kan pasti dimanfaatkan oleh banyak pihak. Itu juga melatih kepedulian sosial,” jelasnya. [Mohamad Deny Irawan]





















