Yogyakarta, Gontornews — Yogjakarta memiliki pesona tersendiri bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Sajian destinasi sarat sejarah, budaya, dan alam selalu melekat di Kota Gudeg ini. Keindahan yang berpadu dengan kelestarian budaya membawa daya tarik tersendiri sehingga menarik untuk dikunjungi.
Ketika mengupas Daerah Istimewa Yogyakarta, mungkin sebagian orang akan teringat makanan khas gudeg, Malioboro, pelajar dan masih banyak lagi. Kota ini memiliki ragam wisata yang menarik. Kota yang dikenal dengan julukan Kota Pelajar ini sarat akan peninggalan sejarah dan budaya.
Wisata budaya merupakan ciri khas kota Yogyakarta. Meski begitu, wisata alam dan buatan yang lain juga tak kalah menarik. Berikut tempat wisata sejarah di Keraton Jogja yang cocok untuk dikunjungi.
- Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta merupakan tempat wisata yang menjadi salah satu daya tarik Jogja, menawarkan berbagai benda-benda bersejarah serta Museum Batik khas kraton.
Berkunjung ke Jogja serasa tak lengkap jika belum mampir di Keraton Yogyakarta. Istana dimana Raja Jogja tinggal ini merupakan salah satu daya tarik wisata yang mengundang pelancong dari berbagai belahan dunia.
Keraton ini terletak pada Jl. Rotowijayan Blok No 1, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya yang berada di pusat Kota Jogja menjadikan Keraton sangat mudah dijangkau oleh wisatawan. Tepatnya Keraton Jogja berada di sebelah selatan Alun-alun Lor Yogyakarta. Alun-alun Lor ini sebenarnya masih termasuk bagian dari Keraton Yogyakarta.
- Museum Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Museum Sri Sultan Hamengkubuwono IX ini dibangun pada tahun 1992. Dibangunnya museum ini bertujuan untuk mengenang Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia. Keraton Yogyakarta juga erat kaitannya dengan sejarah Republik Indonesia.
Pada Januari 1946, ibukota Indonesia yang berada di Jakarta dipindahkan ke Yogyakarta. Hal tersebut dikarenakan kondisi keamanan Jakarta yang memburuk pasca kedatangan kembali Belanda yang menumpang sekutu. Pemerintahan pun dipindah, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ikut pindah ke Jogja. Selama ibukota dipindah, Kraton Yogyakarta dijadikan sebagai Istana Negara.
Wisatawan dapat melihat meja-meja dan kursi yang dulu digunakan ketika berunding untuk merencanakan Serangan Umum Satu Maret di Yogyakarta. Di museum ini juga terdapat berbagai barang pribadi miliki Sultan Hamengkubuwono IX seperti meja kerja, alat tulis, jam, lencana, foto dan masih banyak lagi.
- Museum Batik
Museum ini terletak tak jauh di sebelah utara Museum Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 2005. Dalam museum ini, wisatawan dapat melihat berbagai kain batik dengan corak yang khas dan indah. Tak hanya itu, di museum ini juga dipajang alat-alat untuk membatik dari masa ke masa.
Pengunjung hanya diperkenankan untuk melihat barang-barang yang dipajang di Museum Bakti ini. Dilarang untuk menyentuh, atau mengambil foto pada kain batik. Hal ini bertujuan agar hasil karya kain batik ini tidak ditiru serta dikomersilkan.
Tak jauh dari Museum Batik, terdapat sebuah sumur tua yang ditutupi dengan kawat. Sumur tersebut kini sudah tidak digunakan lagi. Jika melihat dari mulut sumur, pengunjung bisa melihat sisa air serta uang koin yang berceceran didalamnya. Namun sudah terdapat larangan, bawah pengunjung tidak boleh melemparkan koin ke dalam sumur tersebut.
- Museum Kereta
Museum Kereta dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII. Museum ini berisi koleksi kereta kuda milik Keraton Kasultanan Yogyakarta. Melalui Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 282/KEP/2020, Museum Kereta ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi.
Koleksi Museum Kereta Keraton Yogyakarta dikhususkan pada alat transportasi berupa kereta kuda yang pernah digunakan. Kereta kuda koleksi museum tersebut telah berusia puluhan hingga ratusan tahun.
Beberapa dari kereta kuda tersebut masih digunakan dalam upacara-upacara kebesaran Keraton, seperti upacara penobatan Sultan, pernikahan putra Sultan, atau mengantar jenazah Sultan ke tempat peristirahatan terakhir.
- Museum Sonobudoyo
Museum Sonobudoyo didirikan pada tahun 1934 dan diresmikan pada tanggal 6 November 1935 oleh Sultan Hamengku Buwono VIII. Museum itu merupakan bagian dari lembaga yang bernama Javaansche lnstituut yang berdiri pada tanggal 4 Agustus 1919 di Surakarta.
Bangunan museum berbentuk joglo dan menghadap ke selatan. Terdapat ruang pamer yang berada di lantai pertama dan bangunan berlantai dua yang ada di sebelah barat digunakan untuk ruang perkantoran.
Koleksi Museum Sonobudoyo saat ini memiliki sekitar lebih 43.263 buah benda sejarah, terdiri dari koleksi prasejarah (alat batu, area replika tengkorak dan tulang manusia purba, dll), wayang, batik dan perlengkapan untuk membatik, gamelan, perlengkapan tradisional Jawa, keris, topeng, dan masih banyak lagi.
- Taman Sari
Wisata sejarah ini memiliki bangunan unik dan indah. Pesanggrahan Taman Sari dengan bangunannya yang besar dan megah mulai dikenal sejak zaman Sri Sultan Hamengku Buwono I, yaitu sekitar tahun 1755.
Dahulu, Taman Sari digunakan sebagai tempat untuk bercengkrama dan rekreasi. Hal tersebut dapat dilihat dari perwujudan lorong-lorong dengan taman, serta kolam pemandian yang sangat lebar dan tidak terlalu dalam yang dihiasi dengan aneka pohon bunga di sekelilingnya.
Taman Sari sering disebut juga sebagai Water Kasteel (Istana Air). Bangunan ini memiliki empat area yang berbeda, yaitu kolam buatan dengan pulau-pulau kecil dan paviliun di sebelah barat, kompleks pemandian di tengah, kompleks pemandian selatan, dan kolam kecil di timur.
Pengunjung dapat mengelilingi wisata ini sambil mengambil foto atau menyewa pemandu wisata yang akan menjelaskan lebih lanjut mengenai bangunan ini.[Fath]




















