Ankara, Gontornews — Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Rex Tillerson akan memulai kunjungan dua harinya ke Turki, saat kedua sekutu NATO itu mencari cara untuk mengurangi perselisihan, terutama mengenai kebijakan di Suriah.
Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoğlu pada 14 Februari mengatakan, AS pertama-tama harus menekankan integritas teritorial Suriah.
“Mereka yang ingin bekerjasama dengan kita harus peka terhadap solusi politik dan yang lebih penting, mereka harus berhenti mendukung organisasi teroris yang bertujuan untuk membagi Suriah,” kata Çavuşoğlu di Kuwait City pada sebuah konferensi negara-negara donor untuk rekonstruksi Suriah. Pernyataan ini tampaknya mengacu pada AS.
Tillerson mengatakan di Amman pada 14 Februari, “Sehubungan dengan pertemuan saya di Ankara, Turki masih merupakan sekutu penting Amerika Serikat di NATO… Kita perlu menemukan cara untuk terus bekerja dengan cara yang sama. Kami berkomitmen pada hasil yang sama di Suriah.”
Kunjungan Tillerson terjadi setelah pertemuan 11 Februari antara penasihat keamanan nasional Presiden Donald A Trump, HR McMaster, dan Juru Bicara Presiden Turki İbrahim Kalın sebagai bagian dari upaya memperbaiki hubungan antara Ankara dan Washington.
Tillerson akan tiba di Ankara pada 16 Februari dan bertemu dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Çavuşoğlu. Kunjungan ke Ankara akan menandai berakhirnya tur lima negara di wilayah tersebut, setelah mengunjungi Mesir, Kuwait, Yordania dan Lebanon.
Ketegangan antara Turki dan AS meningkat karena AS mendukung Unit Perlindungan Rakyat (YPG), yang oleh Turki dilihat sebagai bagian dari Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK).
Turki meluncurkan “Operation Olive Branch” pada 20 Januari untuk mengusir militan YPG dari distrik Afrin, Suriah. [Rusdiono Mukri]





















