Sleman, Gontornews — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi secara resmi menutup Liga Santri Nusantara, Ahad (30/10) sore, di Stadion Maguwoharjo Sleman, Yogyakarta.
Dalam sambutannya Menpora Imam Nahrawi mengatakan, pemerintah akan terus mendorong agar kompetisi dilakukan secara berjenjang, makin sistematis, terencana, terukur dan menjadi contoh yang menyenangkan, menggembirakan sekaligus mengesankan sehingga semua yang datang ke stadion dan keluar dari stadion dalam keadaan senang dan gembira. “Tidak ada kericuhan, tidak ada bentrokan, karena olahraga, sepakbola menyatukan Tanah Air, bukan sebaliknya memecah belah rasa kebangsaan kita,” paparnya.
“Kami bersyukur sekali karena Liga Santri Nusantara berjalan dengan baik. Pemerintah juga terus mendorong agar kompetisi dilaksanakan sejak usia dini. Tahun 2016 kami telah mendorong kompetisi sepakbola secara berjenjang, mulai dari usia 12, 14 ,16, 18, 20 hingga ke tingkat mahasiswa. Selain itu ada liga pelajar dan liga mahasiswa, yang terus-menerus kita gelar,” lanjut Menpora.
Menurutnya, Liga Santri Nusantara ini dilaksanakan karena pesantren tidak hanya mendidik, mengkader, dan mengajak santri untuk beribadah saja, tidak hanya mempelajari kitab kuning saja, tidak hanya dibekali untuk ilmu berdakwah saja. Tapi para santri dididik dalam ketaatan, sportivitas meski jauh dari keluarga, dapat kiriman ataupun tidak dapat kiriman, solidaritas betul-betul ditunjukkan oleh santri. “Kalau kemudian didorong dengan teknik yang baik, dan tata aturan yang baik, maka saya yakin, santri tidak hanya kuat dalam segi spiritual, tapi juga dari segi fisik, intelektual dan pengagungan terhadap perbedaan dan penghargaan terhadap tim itu betul-betul dicerminkan oleh kaum santri.” [Yuzaq Ardian/Al Hafidh]



















