Washington, Gontornews – Setelah penyemprotan insektisida untuk memberantas nyamuk zika di Amerika Serikat beberapa waktu lalu, kini sejumlah peneliti yang berasal dari Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) merilis ‘nyamuk antizika’ untuk melawan penyebaran zika yang makin meluas.
Para peneliti BMGF mengatakan, pendekatan ini merupakan pendekatan revolusioner untuk memberantas dan membatasi penyebaran virus zika dan cikhungunya.
Nyamuk yang telah terinfeksi dengan bakteri bernama Wolbachia disebut mampu mengurangi kemampuan nyamuk untuk menginfeksi virus ke manusia.
Proyek yang kabarnya menelan biaya hingga 18 miliar dolar AS itu akan diujicoba di Brazil dan Kolombia, dua negara dengan kasus zika tertinggi
Selain BMGF, pemerintah daerah di Amerika Latin, Amerika Serikat dan Inggris, sebagaimana dilansir BBC, juga ikut mendanai proyek tersebut.
Dalam prosesnya, nyamuk disuntik dengan bakteri Wolbachia. Bakteri Wolbachia sendiri merupakan bakteri alami yang menginfeksi 60 persen spesies serangga di seluruh dunia. Menurut peneliti, bakteri tersebut tidak berdampak negatif sehingga tidak berbahaya bagi manusia.
Meski demikian, ujicoba vaksinasi bakteri Wolbachia kepada nyamuk Aedes aegypti belum pernah dilakukan sebelumnya. Nyamuk Aedes aegypti sendiri kabarnya menjadi ‘pendonor’ tunggal tersebarnya virus zika yang menyebabkan mikrosepalus pada bayi yang baru lahir.
Kini, para peneliti sedang berusaha menemukan cara untuk menyuntikkan bakteri tersebut ke nyamuk penyebab demam beradarah tersebut. Ujicoba dalam skala kecil sudah dilakukan di Brasil, Kolombia, Indonesia dan Vietnam, dan laporan tentang ‘modifikasi’ nyamuk tersebut telah dirilis.
Dr Trevor Mundel dari BMGF menyebutkan, Wolbachia merupakan perlindungan revolusioner untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap penyakit zika, demam berdarah dan virus lainnya yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti itu.
“Ini terjangkau, berkelanjutan dan tampaknya dapat memberikan perlindungan terhadap zika, demam berdarah dan sejumlah virus lainnya,” ungkap Mundel sebagaimana dilansir BBC.
“Kami sangat ingin mempelajari dampak dan bagaimana dapat membantu negara-negara yang terinfeksi virus akibat nyamuk tersebut,” tambahnya.
Para peneliti kini sedang memperluas area ujicoba ke daerah-daerah perkotaan di Bello, Antiquia di Kolombia dan Rio de Janiero di Brazil dan bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat.
Lebih lanjut, para peneliti berharap di masa mendatang, nyamuk yang terinfeksi bakteri Wolbachia akan berkembang biak bersama nyamuk pembawa virus zika dan semacamnya.
Untuk memastikan perkembangan lanjutan, penelitian ini dipantau dengan ketat setidaknya untuk tiga tahun mendatang dengan memeriksa apakah ada penurunan korban yang terjangkit kasus demam berdarah, zika maupun chikungunya.
Prof Scott O’Neill dari The Eliminate Dengue Program mengatakan munculnya keterlibatan masyarakat dalam menyikapi masalah ini karena masyarakat mulai menyadari masalah apa yang disebabkan oleh nyamuk dan berusaha untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut.
“Ini merupakan bukti keterlibatan dan kerjasama masyarakat untuk menjawab pertanyaan tersebut,” kata O’Neill.
“Kami menjelaskan bahwa bakteri Wolbachia hadir dalam bentuk serangga di seluruh dunia dan persentuhan di antara keduanya sehari-hari tidak menimbulkan masalah apa-apa,” tambahnya.
“Selama enam tahun ke belakang, kami telah melakukan ujicoba ini dan tidak menimbulkan masalah.”
Setidaknya ada dua pendekatan yang digunakan untuk menyuntikkan bakteri Wolbachia ini. Pertama, bakteri Wolbachia digunakan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh nyamuk sehingga tahan terhadap virus seperti demam berdarah.
Kedua, membiarkan bakteri Wolbachia bersaing dengan virus demam berdarah dan zika untuk berkembang dalam tubuh nyamuk tersebut. Virus yang kalah tidak akan berkembang biak dan memperbanyak diri. Dengan cara ini, ada kemungkinan nyamuk tersebut tidak akan meneruskan virus yang ada saat menggigit manusia. [Mohamad Deny Irawan/Rus]




















