Jakarta, Gontornews — Berkat kerja keras dan sentuhan tangan dingin alumni KMI Gontor tahun 1986, Dr KH Abdurrahim Yapono, MA, MSc areal tanah seluas 12 ha disulap menjadi pondok modern satu-satunya di Dusun Amprea, Desa Laimu, Kecamatan Telutih, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Ya. Di lahan itulah Pondok Modern Darul Ihsan berdiri sejak tahun 2016 dan sistem pendidikan formal, Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah (KMI) dibuka pada 2017. Bisa dibilang pesantren pimpinan Ustadz Yapono benar-benar dirintis dari nol.
Terletak di Jl. Trans Seram No.KM.138, pinggiran Desa Laimu, Kecamatan Telutih, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Pada awal berdirinya, anak-anak yang mendaftar ke Pondok Modern Darul Ihsan ada 30 orang. Sedangkan yang benar-benar maqbul lulus ujian baca tulis Al Qur’an, berhitung, dan bahasa Indonesia, hanya dua orang.
“Mungkin problemnya SDM. Bahkan ada pendaftar tamatan SMA belum bisa berhitung. Ada juga pendaftar tamatan tsanawiyah belum bisa baca tulis Al Qur’an. Ini real. Datanya ada kita. Saya teringat pesan Kiai Hasan, jangan menolak murid yang tidak bisa baca Al Qur’an. Justru seharusnya itu yang jadi garapan dakwah kita. Itu yang kami lakukan,” jelasnya kepada Majalah Gontor.
Dikatakannya, Desa Laimu Kecamatan Telutih Kabupaten Maluku Tengah memang memiliki fasilitas pendidikan yang cukup memadai. Mulai dari sekolah-sekolah seperti SD, Madrasah Tsanawiyah, SMP, SMA dan lembaga pendidikan lain ada di sini. Namun dari sisi praktik keagamaan, di Maluku masih banyak kaum abangan atau banyak orang Maluku yang masih awam tentang agama.
Prihatin dengan kondisi itu, pada tahun 2016 Kiai Yapono hijrah dari Jakarta ke Dusun Amprea, Desa Laimu, Kecamatan Telutih, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku untuk merintis pesantren yang sepenuhnya mengacu pada sistem Pondok Modern Gontor.
Menurut Yapono jika mengikuti teori Clifford Geertz dalam bukunya Religion of Java yang membagi varian keberagamaan masyarakat Jawa ke dalam kaum santri, priyayi dan abangan, di Seram juga tidak lebih dari tiga komponen masyarakat itu.
Bahkan keberagamaan masyarakat Maluku didominasi oleh kaum abangan daripada masyarakat santri. Karena pesantren masih dianggap baru di sana dan yang dikenal di Seram hanya Tuan Guru-Tuan Guru yang mengajarkan Al Qur’an, tajwid dan fiqih sedikit. Sementara priyayi kami ada di Kesultanan Ternate. Tapi kami jauh dari pusat Kesultanan Ternate.
Kehadiran pondok ini bisa memberikan manfaat dan menyebarkan dakwah Islam di bumi seram yang kebanyakan masyarakanya kaum abangan. Setiap tahun siswa kelas 5 kita terjunkan ke mushala dan masjid untuk dakwah,” katanya.
Begitu sistem KMI diperkenalkan, banyak anak anak warga sekitar yang sebelumnya tidak mengaji sekarang mereka mengaji dan shalat berjamaah. Di tahun ketujuh mulai banyak orang tua yang menitipkan anaknya ke Pon dok Modern Darul Ihsan.
“Kita sekarang ada sekitar 70 an santri dari kelas 1 sampai kelas 6. Kita juga ada binaan. Ada ibu-ibu dan bapak-bapak dari luar pondok mengikuti kajian Islam yang diajar guru-guru pondok. Kami bahagia sekali, karena bisa membuat mereka mengenal lagi Islam, mengenal lagi Al Qur’an,” bebernya. []






















