New Delhi, Gontornews — Seorang warga New Delhi, Mohammad Ikrar, terpaksa membuang barang dagangannya berupa buah-buahan yang membusuk karena gelombang panas dan ketiadaan akses pendingin seperti lemari es akibat pemadaman listrik.
Situasi ini telah membuat Ikrar kehilangan pendapatan hingga 3000 Rupee atau 39 Dolar Amerika Serikat dalam sepekan. Dalam situasi normal, angka tersebut setara dengan setengah dari rata-rata pendapatan mingguan Ikrar kala menjual buah-buahan.
“Situasi (gelombang) panas ini menyiksa. Tetapi, kalau suatu saat mau beli AC atau kulkas, itu menjadi solusi,” ucap Ikrar saat berbicara dengan menggunakan baju lengan panjang dan penutup kepala guna mengatasi suhu panas yang mencapai 44 derajat celcius saat itu.
Tidak sampai di situ, Ikrar dan keluarga juga mengalami pemadaman listrik berjam-jam siang dan malam yang membuat kipas angin tidak berfungsi. “Saya berkeringat sepanjang hari, termasuk berkeringat sepanjang malam. Tidak ada cara untuk mendinginkan suhu tubuh dengan benar. Saya belum pernah mengalami hal ini sejak saya pindah delapan tahun lalu,” sambung Ikrar.
Sebuah laporan dari Sustainable Energi for All (SE4ALL), Senin (23/5/2022), mengamini pengakuan Ikrar. SE4ALL mengonfirmasi ada hampir 323 juta warga di seluruh India yang terancam panas ekstrem serta kurangnya mekanisme pendingin seperti kipas angin ataupun ketersediaan lemari es.
Bersama Cina, Indonesia dan Pakistan, India menjadi negara dengan populasi terbesar yang terancam bahaya gelombang panas mulai dari kematian, terganggunya ketahanan pangan dan hilangnya mata pencaharian. Sepanjang bulan April, suhu di New Delhi melonjak hingga di atas 49 derajat celcius.
“Pada gilirannya (situasi ini) semakin memperburuk risiko gelombang panas yang lebih lama dan lebih ekstrem,” ungkap laporan SE4ALL kepada Reuters.
Sejumlah ilmuwan mengatakan gelombang panas menghampiri ini sebagai bagian dari efek perubahan iklim. Setidaknya ada lebih dari satu miliar orang India dan Pakistan yang berisiko terkena panas ekstrem.
SE4ALL mencatat Karachi (Pakistan), Mumbai (India), Dhaka (Bangladesh) sebagai kota dengan risiko terdampak panas ekstrem karena ketiadaan pendingin yang memadai.
Kepala Institut Kesehatan Masyarakat India di Ghandinagar Gujarat, Dileep Mavalankar, menjelaskan bahwa situasi ini hanya merupakan puncak gunung es saja. Karenanya, ia mendorong penerapan Heat Action Plan (HAP) yang selama ini mampu menyelamatkan hampir 1.200 warga dari kematian akibat gelombang panas.
Mavalankar dan SE4ALL menyerukan penggunaan atap yang lebih luas dengan permukaan atau pelapis reflektif untuk mengurangi suhu. Ia juga mendorong pihak berwenang untuk membangun rumah tahan panas serta memperbanyak ruang terbuka hijau.
“Suhu dapat meningkat tiga hingga lima derajat celcius pada musim panas mendatang. Kita harus bersiap sekarang,” tutup Mavalankar. [Mohamad Deny Irawan]






















