Tokyo, Gontornews — Panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 mempersiapkan fasilitas yang mempermudah atlet, pejabat atau suporter Muslim di Tokyo. Nama fasilitas tersebut adalah Mobil Masjid.
The Yasu Project yang merealisasikan ide tersebut. Sesuai rencana, mereka akan menyediakan beberapa unit Mobil Masjid di luar venue olimpiade selama 24 Juli hingga 9 Agustus 2020 mendatang.
Sebagai informasi, Mobil Masjid telah dimodifikasi untuk memudahkan para jamaah Muslim untuk shalat. Bagian belakang truk bisa diperlebar hanya dalam hitungan detik. Selain itu, mobil ini juga memiliki plang kiblat serta tempat berwudhu.
“Saya ingin para atlet yang bersaing dapat datang dengan motivasi terbaik. Kepada para suporter yang hadir saya pun berharap mereka datang dengan motivasi terbaik pula. Itulah sebabnya, kami membuat fasilitas ini,” ungkap CEO The Yasue Project, Yasuharu Inoue, sebagaimana dilansir Reuters.
“Saya berharap langkah ini membuat banyak orang menyadari ada banyak perbedaan di dunia ini. Saya juga berharap bahwa upaya ini dapat mempromosikan Olimpiade dan Paralimpiade damai yang tidak diskriminatif,” tambah Inoue.
Panitia Olimpiade Tokyo 2020 juga akan mempersiapkan segala bentuk fasilitas guna memfasilitasi seluruh kelompok agama.
“Panitia sedang mempersiapkan pusat keagamaan atau (petugas) agama yang dapat dihubungi atau dikunjungi jika dibutuhkan.”
“Di dalam venue olimpiade, ruang ibadah multiagama bagi para atlet dan penonton tengah dipertimbangkan,” ungkap pernyataan resmi Panpel Tokyo 2020.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Waseda membuktikan bahwa pada akhir 2018, Jepang hanya memiliki 105 masjid. Itu pun tersebar di pinggiran Tokyo dan berukuran kecil. Hal ini tentunya dapat mempersulit umat Muslim di Tokyo untuk shalat 5 waktu.

Topan Rizki Utraden, warga negara Indonesia di Tokyo, mengamini hal tersebut. Selama 12 tahun tinggal di Tokyo, ia baru menemukan Mobil Masjid ini di Tokyo. Ia pun mengamini bahwa sulit beribadah shalat di Jepang terkhusus jika Anda berada di luar Tokyo.
“Sangat sulit untuk menemukan masjid di dekat lokasi anda,” kata Utraden.
“Jika Anda berada di Kota (Tokyo) itu tidak masalah. Tetapi jika Anda melakukan perjalanan ke luar Tokyo, Anda akan kesulitan,” imbuhnya
Utraden mengaku bahwa tidak jarang ia terpaksa shalat di sebuah taman meski mendapatkan tatapan tidak mengenakkan dari warga sekitar.
“Kadang-kadang, aku shalat di taman walau terkadang orang Jepang menatapku seraya berkata ‘apa yang kamu lakukan’?” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]



















