Beirut, Gontornews — Pemimpin Hizbullah Lebanon, Hassan Nasralla, menyatakan bahwa Perdana Menteri Lebanon saat ini ditahan di Arab Saudi dan pengunduran dirinya tidak konstitusional karena dilakukan “di bawah tekanan”.
Berbicara di Beirut pada hari Jumat, Nasrallah meyakini bahwa Saad Hariri dipaksa untuk mengundurkan diri sebagai bagian dari apa yang dia sebut “kebijakan Arab Saudi untuk memicu ketegangan sektarian di Lebanon”.
Hariri, yang mengumumkan pengunduran dirinya pekan lalu dalam pidato di televisi dari Riyadh, belum kembali ke Lebanon.
Nasrallah mengatakan Hariri dicegah oleh pejabat Saudi untuk kembali ke Lebanon, oleh karena itu “kami menganggap pengunduran diri Hariri ilegal dan tidak sah”.
“Tiba-tiba, entah dari mana, Arab Saudi memanggil perdana menteri untuk urusan mendesak tanpa ajudan atau penasihatnya, dan dipaksa untuk mengajukan pengunduran dirinya, dan untuk membaca pernyataan pengunduran diri yang mereka tulis,” kata Nasrallah seperti dikutip Aljazeera.
Menurutnya, Arab Saudi telah ikut campur tangan urusan internal Lebanon.
“Kami menyatakan bahwa Perdana Menteri Lebanon belum mengundurkan diri,” katanya.
“Saad Hariri adalah lawan politik kami, tapi dia juga perdana menteri kami.”
Nasrallah juga mengatakan “Lebanon telah menikmati stabilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya selama tahun lalu”, dan meminta persatuan di seluruh negeri.
Dia mengatakan Presiden AS Donald Trump pasti sudah mengetahui rencana untuk memaksa pengunduran diri Hariri.
Hariri adalah bagian dari sebuah pemerintahan persatuan yang juga mencakup faksi politik yang bersaing seperti yang didukung oleh Hizbullah. [Rusdiono Mukri]





















