Ahad (21/9/2025) pagi, udara di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 2 terasa berbeda. Langit teduh menyimpan gema 100 tahun perjalanan sebuah lembaga yang bukan sekadar pondok, melainkan pusat peradaban: Gontor. Usia 100 tahun bukan angka biasa; ia jejak istiqamah, kesabaran, dan doa yang tak pernah padam dari para pendirinya.
Gontor berdiri di atas nilai yang kokoh meski zaman berganti: keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Nilai itu bukan sekadar semboyan, melainkan ruh yang menghidupkan tarikan nafas santri. Dari situlah Gontor berbeda: ia tidak sekadar mentransfer ilmu, tetapi membentuk manusia seutuhnya.
Olimpiade Sebagai Ikhtiar
Dalam momentum 100 tahun ini lahirlah sebuah ikhtiar yang tampak sederhana, tetapi sarat makna: Olimpiade Gontor Tingkat SD/MI dan SMP/MTs. Di dalamnya, peserta berkompetisi di bidang keilmuan, olahraga, pramuka, seni, dan bahasa. Dari riuhnya perlombaan, terpancar pesan filosofis bahwa pendidikan sejati merupakan sinergi antara akal, jasad, jiwa, dan budaya.
Cabang lomba mencakup, Keilmuan: Cerdas Cermat dan Teknologi Tepat Guna (TTG). Kesenian: Nasyid dan Melukis. Olahraga: Voli, Basket, dan Senam Kebugaran Jasmani (SKJ). Bahasa: Pidato Bahasa Indonesia dan Story Telling. Kepramukaan: Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (LKBB) dan Smapore Morse Sandi (SMS)
Di pengujung acara, diumumkan juara umum tingkat SMP/MTs yaitu MTs Fie Sabilil Muttaqin, Tempurejo, Tempuran, Paron, Ngawi dan jenjang SD/MI yaitu MI PAS Baitul Qur’an Gontor, Mlarak, Ponorogo.
Pendidikan yang Membentuk Manusia
Ketua Umum Panitia 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof Dr KH Hamid Fahmy Zarkasyi MAEd, menegaskan bahwa pendidikan Gontor bukan hanya memberi ilmu, tetapi membentuk manusia. “Yang belajar sungguh-sungguh, itulah yang akan terbang ke seluruh dunia,” ujarnya.
Beliau mencontohkan alumni Gontor yang menimba ilmu di Mesir, Turki, Saudi, hingga Amerika dan Inggris. Beasiswa hanyalah pintu, kuncinya ilmu dan kesungguhan. “Kalau hanya sekolah di Ngawi, kalian akan jadi orang lokal. Tapi kalau sekolah di Gontor, kalian akan jadi orang Indonesia.”
Refleksi ini menyiratkan bahwa pendidikan merupakan proses menguniversalkan diri—melampaui ruang, budaya, bahkan bangsa—agar manusia mampu menempatkan dirinya dalam peta peradaban global.
Ulul Albab: Visi Abadi
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Drs KH M Akrim Mariyat Dipl.Ad.Ed, menambahkan dimensi spiritual. Sejak berdiri tahun 1926, Trimurti Pendiri Pondok telah menegaskan bahwa Gontor wasilah ibadah. Hal itu dipertegas dalam Piagam Wakaf 1958: mendidik adalah ibadah, dan ibadah adalah mendidik.
Visi Gontor mencetak ulul albab—manusia yang kuat iman, luas ilmu, sehat jasmani, luhur akhlak, dan merdeka pikirannya. Belajar di Gontor berarti membaca dua kitab sekaligus: al-Qur’an sebagai kitab tertulis, dan alam semesta sebagai kitab terbentang.
Dari Ngawi untuk Dunia
Cahaya Gontor tidak berhenti di lingkungannya sendiri. Asisten I Bupati Ngawi, Totok Sudaryanto MH menyebut Olimpiade ini bagian dari wajah daerah sekaligus bangsa. Lebih dari 400 peserta hadir dari berbagai kabupaten bahkan provinsi. “Ini bukan hanya mencetak generasi tangguh dalam pendidikan, tetapi juga dalam keislaman,” ujarnya.
Dari desa kecil Sambirejo, Mantingan, Ngawi, cahaya Pondok Gontor memancar ke Nusantara dan dunia. Ia menyatukan lokalitas dan universalitas dalam harmoni yang indah.
Lomba Sebagai Miniatur Kehidupan
Di balik sorak dan derap langkah peserta, tersimpan filosofi. Prof Hamid Fahmy menegaskan: “Orang yang berani ikut lomba adalah orang yang sudah punya mental bagus. Sering berlomba, berarti sering berkompetisi. Orang yang berkompetisi pasti belajar. Kalau belajar pasti pintar.”
Lomba bukan sekadar medali. Ia miniatur kehidupan: ada kalah, ada menang. Yang kalah belajar bangkit, yang menang belajar rendah hati. Pendidikan sejati ada pada keberanian mencoba, ketekunan berlatih, dan sportivitas menerima hasil.
Legasi Keputrian
Di tengah semarak lomba, Gontor Putri menegaskan peran membangun generasi Muslimah. Program keputrian —tata boga, tata busana, tata laksana— merupakan fondasi peradaban.
“Seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi generasi. Membina Muslimah berarti membina peradaban,” tegas Prof Hamid. Karena itu, Gontor menjadikan keputrian bukan sekadar pelengkap, melainkan inti misi besar: melahirkan Muslimah berilmu, mandiri, kreatif, dan siap berkontribusi bagi dunia.
Cahaya yang tak Pernah Padam
Seratus tahun adalah angka, tetapi sekaligus simbol. Dari santri pertama yang hanya segelintir, kini Gontor melahirkan ribuan alumni di seluruh dunia. Dari desa kecil, ia menjelma menjadi poros pendidikan internasional.
Namun, yang lebih penting dari angka adalah ruh: keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Nilai-nilai itu merupakan nyala api yang tidak boleh padam, sebab menjadi energi spiritual, moral, dan intelektual bagi setiap generasi.
Menyongsong 100 Tahun Indonesia
Dua puluh tahun lagi, Indonesia merayakan seabad kemerdekaan. Prof Hamid Fahmy mengingatkan: “Taruhannya kualitas.” Dengan jumlah penduduk yang bisa mencapai 300 juta, hanya generasi berkualitas yang akan bertahan.
Di sinilah relevansi Gontor. Ia hadir bukan hanya untuk masa lalu, tetapi untuk masa depan. Ia mendidik generasi yang bukan sekadar pintar, tetapi juga berakhlak; bukan hanya sukses untuk diri, tetapi juga bermanfaat bagi umat dan bangsa.
Tak Boleh Padam
Olimpiade hanyalah satu fragmen kecil dari mozaik besar 100 tahun Gontor. Tetapi dari fragmen itu kita belajar bahwa pendidikan merupakan cahaya: memantulkan kebaikan, memancarkan ilmu, menyalakan semangat, dan mengarahkan manusia menuju puncak pengabdian.
Seratus tahun Gontor adalah 100 tahun cahaya. Cahaya itu tidak boleh padam, sebab ia bukan hanya milik Gontor, melainkan milik Indonesia, bahkan peradaban. []






















