London, Gontornews — Kelompok oposisi utama Suriah mengumumkan, para pejuang berhasil memecahkan pengepungan pemerintah di Kota Aleppo.
Koalisi Nasional Suriah yang berbasis di Turki mengatakan di Twitter, Sabtu, “Para pejuang memecahkan pengepungan Aleppo.”
Kelompok pejuang Ahrar al-Sham juga memposting di Twitter bahwa para pejuang telah menguasai Ramosa di tepi barat daya kota dan dengan demikian “membuka rute ke Aleppo”.
Pasukan Pemerintah Suriah mengepung Aleppo pada 17 Juli setelah menutup rute yang dikuasai oposisi terakhir di kota itu.
Al-Manar, stasiun televisi yang berafiliasi dengan kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, yang berjuang bersama pasukan Pemerintah Suriah, mengatakan dalam sebuah pernyataan di situsnya, “klaim yang menyatakan bahwa pengepungan di Aleppo telah rusak, sepenuhnya rumor.”
Zouhir al-Shimale, seorang jurnalis di Aleppo, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pengepungan “praktis telah rusak”.
Sebuah kelompok koalisi pejuang, Jaish al-Fatah, mengumumkan pada hari Jumat, mereka telah menguasai sebuah pangkalan militer strategis di Ramosa, barat daya Aleppo.
Para pejuang menggunakan pangkalan itu untuk melancarkan serangan ke daerah yang dikuasai pemerintah, menurut Shimale.
Pada hari Sabtu (6/8) sekitar pukul 12:00 waktu setempat, sebuah bom mobil meledak di al-Amiriya, di pinggiran kota yang dikepung, katanya.
Shimale mengatakan, semua daerah antara Ramosa dan Amiriya sekarang dikuasai para pejuang.
“Ada bentrokan hebat dan penembakan acak dari helikopter dan pesawat-pesawat tempur,” tambahnya.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), kelompok pemantau yang berbasis di Inggris yang mencatat perkembangan setiap hari di negara itu, mengatakan, “para pejuang mempunyai kaitan dan maju ke kabupaten timur Aleppo.” Tapi belum mengamankan rute yang aman karena Rusia dan rezim pemerintah terus-menerus menghujani daerah itu dengan bom-bom dari udara.
Diperkirakan 250 ribu warga sipil hidup di wilayah timur yang dikuasai pejuang di Aleppo ini. Sampai pekan terakhir, Aleppo telah terbagi menjadi dua wilayah. Wilayah barat dikuasai pemerintah, dan wilayah timur dikuasai para pejuang sejak pertengahan 2012.
Jika dikaitkan, terobosan di Aleppo akan menjadi dorongan bagi para pejuang, yang telah berjuang selama berminggu-minggu untuk merebut kembali kontrol kota meskipun riskan dengan pemboman berat oleh pasukan Rusia dan Suriah.
Konflik Suriah bermula dari pemberontakan rakyatnya, sebagian besar tidak bersenjata, terhadap Presiden Bashar al-Assad Maret 2011, tapi dengan cepat meningkat menjadi perang saudara besar-besaran.
SOHR memperkirakan, lebih dari 280. ribu warga Suriah telah tewas sepanjang lima tahun pertumpahan darah di negeri itu. [Rusdiono Mukri]


















