Peshawar, Gontornews — Daesh mengatakan seorang pembom bunuh diri Afghanistan menyerang di dalam sebuah masjid Muslim Syiah di kota barat laut Pakistan, Peshawar, ketika berlangsung shalat Jumat, menewaskan sedikitnya 63 jamaah dan melukai 194 orang lainnya.
Arabnews.com merilis, afiliasi Daesh di wilayah yang dikenal sebagai Negara Islam di Provinsi Khorasan dan bermarkas di Afghanistan mengklaim serangan dahsyat hari Jumat dalam sebuah pernyataan yang diterjemahkan oleh kelompok Intelijen SITE.
Pernyataan itu diposting di Kantor Berita Amaq grup. Pernyataan tersebut mengidentifikasi penyerang sebagai warga Afghanistan, memposting fotonya dan mengatakan βPejuang Negara Islam terus-menerus menargetkan orang-orang Syiah yang tinggal di Pakistan dan Afghanistan meskipun langkah-langkah keamanan yang ketat diadopsi oleh milisi Taliban dan polisi Pakistan untuk mengamankan tempat ibadah dan pusat-pusat Syiah.β
Pembantaian di masjid yang terletak di jalan sempit kota tua Peshawar itu mengerikan.
Menurut juru bicara Rumah Sakit Lady Reading Peshawar, Asim Khan, banyak dari korban luka berada dalam kondisi kritis. Puluhan korban terkena pecahan peluru, beberapa anggota badan diamputasi dan lainnya terluka oleh puing-puing yang beterbangan.
Kepala Polisi Peshawar Muhammed Ejaz Khan mengatakan kekerasan dimulai ketika seorang penyerang bersenjata menembaki polisi di luar masjid di kota tua Peshawar. Seorang polisi tewas dalam baku tembak tersebut, dan seorang polisi lainnya terluka. Penyerang kemudian berlari ke dalam masjid dan meledakkan rompi bunuh diri.
Pembom bunuh diri itu mengikatkan sebuah alat peledak yang kuat ke tubuhnya, yang berisi 5 kilogram bahan peledak, kata Moazzam Jah Ansari, pejabat tinggi polisi untuk Provinsi Khyber Pukhtunkhwa yang beribukota Peshawar.
Perangkat itu disembunyikan di bawah selendang hitam besar yang menutupi sebagian besar tubuh penyerang, menurut rekaman CCTV yang dilihat oleh AP. Rekaman itu menunjukkan pengebom bergerak cepat di jalan sempit menuju pintu masuk masjid. Dia menembaki polisi yang mengamankan masjid sebelum masuk ke dalam.
Dalam hitungan detik, ledakan dahsyat terjadi dan lensa kamera tertutup debu dan serpihan. Ansari mengatakan perangkat yang dibuat secara kasar itu dikemas dengan bantalan bola, metode mematikan untuk membuat bom demi menimbulkan pembantaian paling besar yang menyemprot area yang lebih besar dengan proyektil mematikan. Bantalan bola menyebabkan angka kematian yang tinggi, kata Ansari.
Pejabat polisi setempat Waheed Khan mengatakan ledakan itu terjadi saat jamaah berkumpul di Masjid Kucha Risaldar untuk shalat Jumat. Ada kekhawatiran jumlah korban tewas masih bisa bertambah, lanjutnya.
Ambulans bergegas melalui jalan-jalan sempit yang padat membawa yang terluka ke Rumah Sakit Lady Reading, tempat para dokter bekerja dengan tergesa-gesa.
Shayan Haider, seorang saksi, sedang bersiap-siap untuk memasuki masjid ketika sebuah ledakan kuat melemparkannya ke tanah. “Saya membuka mata dan ada debu dan tubuh di mana-mana,” katanya.
Di bagian Gawat Darurat Rumah Sakit Lady Reading, terjadi kekacauan saat para dokter berjuang untuk memindahkan banyak orang yang terluka ke ruang operasi. Ratusan kerabat berkumpul di luar unit gawat darurat, banyak dari mereka meratap dan memukuli dada, memohon informasi tentang orang yang mereka cintai.
Di luar masjid, kaum Syiah mendesak melalui jalan-jalan yang ditutup. Masjid Kucha Risaldar merupakan salah satu yang tertua di daerah tersebut, sebelum berdirinya Pakistan pada tahun 1947 sebagai tanah air terpisah bagi umat Islam di anak benua India.
Imam shalat, Allama Irshad Hussein Khalil, seorang pemimpin muda Syiah yang sedang naik daun, termasuk di antara yang tewas. Di seluruh kota, sirene ambulans terdengar.
Di Pakistan yang mayoritas Sunni, minoritas Syiah mendapat serangan berulang-ulang. Juga, dalam beberapa bulan terakhir, negara itu telah mengalami peningkatan kekerasan yang signifikan dan puluhan personel militer tewas dalam sejumlah serangan terhadap pos-pos militer di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan.
Banyak serangan telah diklaim oleh Taliban Pakistan, yang menurut para analis dipicu oleh Taliban Afghanistan yang merebut kekuasaan Agustus lalu di Afghanistan.
Pakistan telah mendesak penguasa baru Afghanistan untuk menyerahkan gerilyawan Taliban Pakistan yang telah melancarkan serangan mereka dari Afghanistan. Taliban Afghanistan mengatakan wilayah mereka tidak akan digunakan untuk melancarkan serangan terhadap siapa pun, tetapi sampai sekarang belum menyerahkan militan Pakistan yang dicari. []






















