Demak, Gontornews — Ulama dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti acara silaturahmi “Majelis al-Muwashalah Baina Ulama al-Muslimin” di Pondok Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen Demak, Selasa (23/8).
Silaturahmi ulama ini dipimpin Habib Muhammad Al Juneid al Hadromi sebagai utusan Habib Umar bin Hafidz dari Tarim,Yaman.
Pengasuh Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen Demak, KH Muhammad Hanif Muslih mengatakan, tugas para alim ulama semakin berat karena selain menghadapai paham baru yang diimpor dari luar, juga menghadapi persoalan bangsa seperti terorisme dan merebaknya kemaksiatan dalam bentuk narkoba, pergaulan bebas, perilaku menyimpang seperti LGBT dan lain-lain.
“Melalui silaturahmi ini diharapkan persoalan bangsa dapat diselesaikan,” katanya sebagaimana dilansir nu.or.id, Kamis (25/8).
Tujuan silaturahmi hanya satu, yaitu mengembalikan marwah para alim ulama, kiai dan habaib sebagai uswah hasanah, panutan umat sekaligus memperkuat amaliah ahlussunah wal jamaah khususnya di Indonesia.
Menurut Habib Muhammad Al Juneid dari TarimYaman,Majelis al Muwashalah tidak hanya di Indonesia, tetapi seluruh dunia. Para kiai, alim ulama, dan hababib dituntut untuk berpikir global merumuskan berbagai solusi persoalan umat dan perdamaian dunia.
Majelis Muwashalah didirikan bukan untuk menjadi organisasi baru yang menyaingi ormas Islam yang sudah ada di banyak negara.
“Semata bertugas mendorong dan memotivasi agar para alim ulama, kiai, habib tetap pada garis perjuangan dakwah Rasulullah SAW,” ungkapnya.
Beberapa tokoh yang hadir di antaranya pimpinan Majelis al Muwashalah Bainal Ulama al Muslimin Indonesia, Habib Jindan bin Novel (Jakarta), Habib Sholeh al Jufri (Solo), Habib Muhsin Al Hamid BSA, Habib Hamid Al Qodri, Habib Quraisy Baharun, KH Ahmad Rofi’i (Pamekasan Madura), KH Muhyiddin Abdul Qodir (Subang Jawa Barat), Syeikh Yusuf Fauzi (Malang), KH Munir Abdullah Ngroto Gubug dan Rois Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidulloh Shodaqoh. [Fathurroji/Rus]




















