Itulah pernyataan mereka yang sedang mengalami krisis kejiwaan karena kehilangan pedoman hidup, dan sedang meraba-raba pegangan baru yang barangkali dapat memberi ketenteraman pada jiwanya yang sedang resah gelisah. Kita pun tidak boleh lupa bahwa kemelaratan dapat mengakibatkan keguncangan iman. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Hampir-hampir kemelaran itu mengakibatkan kekafiran.”
Kita telah sama-sama mengetahui bahwa kekafiran merupakan pelanggaran terhadap ketentuan agama yang sangat besar dosanya. Untuk mencegah pelanggaran terhadap ketentuan agama yang timbul akibat kemelaratan, maka pembangunan bidang materiil perlu diperhatikan.
Selain itu Pemerintah hendaknya dalam pembangunan tidak hanya memprioritaskan bidang ekonomi, tapi juga bidang-bidang lainnya. Dengan begitu, prinsip asas keseimbangan merupakan salah satu dasar pemikiran yang tepat dalam pembangunan untuk mencapai kesejahteraan hidup lahiriah maupun batiniah, di dunia maupun di akhirat.
Pertumbuhan dan Perkembangan Madrasah
Lembaga pendidikan tertua di Indonesia adalah pondok pesantren. Usianya telah berabad-abad. Lembaga pendidikan ini timbul dari keinginan dan usaha rakyat karena terdorong oleh keinginan menyebarluaskan ajaran agama Islam. Menyebarluaskan ajaran Islam adalah perintah agama dan mencari ilmu merupakan kewajiban setiap Muslim.
Perintah agama harus diterima dengan ikhlas, dengan penuh rasa pengabdian kepada Tuhan. Bagi mereka yang melaksanakan perintah Tuhan dengan penuh keikhlasan, selain mendapatkan ketenteraman batin selama hidup, juga akan mendapat pahala di dunia maupun di akhirat.
Karena itu, dasar lembaga pendidikan pondok pesantren adalah keikhlasan, ibadah semata-mata menjalankan perintah agama, dengan harapan mendapatkan ridha Allah SWT, dan memperoleh pahala. Kiai atau guru yang mengajar maupun santri yang belajar, sama-sama ikhlas, tanpa terkait dengan keinginan memperoleh kebendaan atau pangkat.
Persyaratan belajar di pondok pesantren sangat ringan sehingga memberi kesempatan yang luas kepada setiap pemuda untuk belajar. Dengan demikian, penyelenggaraan pendidikan pondok pesantren pun dapat tersebar luas di seluruh penjuru Tanah Air. Di samping menjadi tempat beribadah, kita jumpai masjid atau surau juga menjadi tempat mengajarkan agama. Sebagian dilengkapi dengan asrama, tempat para santri yang datang dari dekat dan jauh menetap untuk sementara, selama mereka belajar kepada kiai.
Seiring berjalannya waktu, masuknya sistem sekolah ke Indonesia membawa pengaruh pada pondok pesantren yang ingin maju. Maka timbullah madrasah-madrasah di pondok-pondok pesantren yang mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum, dengan tidak meninggalkan dasar semula, yaitu ibadah dan keikhlasan menjalankan perintah agama.
Namun, rasa benci kepada penjajah yang melekat di hati para ulama dan kiai mengakibatkan sebagian mereka membenci sistem sekolah yang diperkenalkan oleh penjajah itu tanpa mempertimbangkan kebaikan dan manfaatnya. Karena itu, banyak pondok pesantren yang tidak mengadakan madrasah.
Di sisi lain, banyak pula banyak pula pondok pesantren yang menyelenggarakan keduanya, yaitu tetap memelihara sistem lama dengan mengkaji kitab secara sorogan (bandongan) serta mengadakan sistem baru dengan cara klasikal dan mengajarkan ilmu pengetahuan umum. []





















