Indonesia sebagai Negara maritim memiliki potensi sumber daya kelautan yang sangat melimpah yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Selain itu, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki potensi untuk menjadi poros maritim dunia.
Potensi ekonomi maritim ini di antaranya yaitu perikanan, terumbu karang, hutan mangrove, sumber daya migas dan mineral, rumput laut, transportasi laut, taman laut, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menilai potensi ekonomi dari sektor kelautan Indonesia sebesar 1.33 triliun dolar AS.
Saat ini Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memanfaatkan kekayaan laut Indonesia untuk pembangunan dan kemakmuran nasional dengan prinsip keberlanjutan ekonomi (Sustainable Ocean Economy) yang terdiri dari lima bidang dalam implementasi sustainable ocean economy. Di antaranya ocean wealth (kekayaan laut), ocean health (kesehatan laut), ocean equity (keadilan dalam pendistribusian manfaat laut), ocean knowledge (pengetahuan tentang laut), dan ocean finance (pembiayaan upaya penyehatan dan pengelolaan sumber daya kelautan).
Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin dalam kuliah umumnya di Akademi Angkatan Laut (AAL) Bumi Morokrembangan, Krembangan, Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 6 Februari 2023, menyampaikan bahwa sumber daya kelautan merupakan kekuatan ekonomi Indonesia saat ini dan ke depan, yang wajib dikelola dan dimanfaatkan secara lestari, inklusif dan berkelanjutan, berdasarkan ilmu pengetahuan. Karena itu pengetahuan tentang laut harus menjadi perhatian seluruh masyarakat karena dengannya kita benar-benar dapat mengoptimalkan potensinya.
Islam sebagai suatu agama dan pengetahuan atau sains juga memperhatikan tentang isu kelautan. Dalam Qur’an Allah SWT berfirman QS. An-Nahl, 14: “Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.”
Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tentang pentingnya air laut, dia berkata: Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Wahai Rasulullah, kami naik kapal dan hanya membawa sedikit air, jika kami berwudhu dengannya maka kami akan kehausan, apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ia (laut) suci airnya dan halal bangkainya.”
Beberapa ulama Islam dalam lintasan sejarah Islam pun telah memperhatikan tentang isu-isu kelautan misalnya Buzurg bin Shahriyar al-Ramhurmuzi (342 H/953 M), seorang nakhoda, musafir, kartografer, dan geografer Muslim. Ia diperkirakan lahir di Khuzistan, Persia. Karyanya yang terkenal yaitu Aja’ib Al-Hind Barrihi wa Bahrihi wa Jaza’irihi (Hal-hal menakjubkan mengenai daratan, lautan, dan kepulauan Al-Hind). Kitab ini merupakan kompilasi dari hikayat pelaut Muslim yang melakukan perjalanan di Samudera Hindia dari Afrika Timur sampai ke Cina, Teluk Persia dan Arab dan Laut Merah.
Kisah yang menarik di antaranya tentang Ismail bin Ibrahim atau lebih dikenal dengan Ismailawah itu tentang perlajalanannya ke pulau emas (bilad al-dhahab), yang menurut Suhanna Shafiq (2011) dalam tesisnya di Universitas Exester, UK adalah Pulau Sumatera dan Jawa, dan termasuk pulau lamiri (Sumatera Utara). Ini terbukti saat ini kalau Sumatera dan Jawa merupakan daerah penghasil emas. Lainnya yaitu Ahmad bin Majid (906 H/1500 M) dalam kitabnya fawāid fi usūl al-bahr wal qawāid (kitab tentang manfaat dalam konsep dasar dan prinsip-prinsip laut).
Lainnya lagi Sulayman al-Mahri (917 H/1511 M) dengan kitabnya al-‘Umda al-Mahriyyah fi Ḍabt al-‘Ulūm al-Baḥriyyah (Pijakan al-Mahri dalam Meletakkan Ilmu Kelautan) dan Tahfatul Fuhul fi Tamhidil Ushul (Pengantar Dasar-dasar Ilmu Pelayaran). Kontribusi cendekiawan klasik Islam di masa lampau harus dikembangkan dalam konteks kekinian sehigga estafet keilmuan kelautan terus berkontribusi pada masa kini. Perguruan tinggi Islam dapat menjadi penggerak dalam proses transmisi keilmuan kelautan dalam tradisi Islam pada isu kelautan modern khususnya di Indonesia. Wallahu’alam bil sawab! []






















