Cox’s Bazar, Gontornews – Seorang pengungsi Rohingya, Hamida Begum, di kamp pengungsian Balukhali, Cox’s Bazar, Bangladesh, mengkhawatirkan keselamatan diri dan keluarganya.
Meski Myanmar menjamin keamanan proses pemulangan kembali ke Myanmar, Hamida masih ragu akan tidak adanya kemajuan dalam penanggulangan krisis sejak serangan yang terjadi pada 25 Agustus 2017 tersebut.
Pernyataan Hamida itu lantas diamini seorang analis politik dan mantan diplomat PBB, Richard Horsey. Menurutnya, krisis tersebut telah menyebabkan rusaknya Myanmar di mata dunia.
“Krisis tersebut telah menyebabkan posisi Myanmar di mata dunia rusak,” ungkap Richard Horsey sebagaimana dilansir reuters.
Sebelumnya, sekitar 700.000 etnis minoritas Rohingya terpaksa mengungsi ke Bangladesh setelah militer Myanmar menyerang etnis Rohingya di Rakhine State Juli tahun lalu.
Meski demikian, pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi menolak bahwa pihaknya telah menyerang etnis Rohingya dan menyatakan bahwa apa yang dilakukan pemerintahannya di Rakhine adalah upaya pemberantasan aksi terorisme.
Hamida pun mengakui belum bisa membayangkan apa yang akan dialami diri, keluarga dan koleganya sesama etnis Rohingya sepulangnya kembali ke Myanmar. Hamida dan rekan-rekan masih mengalami trauma yang sangat berat.
“Di Myanmar, jika anak-anak saya menangis di malam hari, saya tidak bisa menyalakan lilin karena adanya pemadaman listrik. Kalupun lilin itu berhasi dinyalakan, militer akan datang dan menangkap Anda,” ungkap Hamida khawatir.
Hal senada disampaikan oleh Badan Pengungsi Dunia, UNHCR, yang menyebut bahwa para pengungsi Rohingya masih sangat mengkhawatirkan kondisi di Myanmar.
“Mereka memberi tahu saya bahwa mereka seperti berada di dalam tahanan. Mereka tidak bisa meninggalkan rumah, para pria tidak bisa memancing di sungai, jam-jam malam akan sangat ekstrim dan hanya pada jam-jam tertentu Anda bisa menyalakan api,” kata perwakilan UNHCR di kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh, Caroline Gluck.
Aung San Suu Kyi memastikan bahwa penanggung jawab pemulangan pengungsi Rohingya adalah Bangladesh bukan Myanmar. Myanmar, disebut Suu Kyi, hanya akan menyambut mereka di daerah perbatasan Myanmar-Bangladesh.
“Para pengungsi harus dikembalikan oleh Bangladesh. Kami hanya dapat menyambut mereka di perbatasan;” ungkap Aung San Suu Kyi.
“Saya pikir Bangladesh yang akan menentukan seberapa cepat mereka menyelesaikan proses pemulangan tersebut,” pungkas Suu Kyi. [Mohamad Deny Irawan]






















