Cox’s Bazar, Gontornews — Forum LSM di Cox’s Bazar, Senin (21/6/2021), mengatakan ratusan ribu anak-anak pengungsi Rohingya di Bangladesh tidak menerima pendidikan yang layak. Mereka berharap pemerintah Bangladesh dapat memberikan pendidikan formal demi mempercepat proses reintegrasi dan repatriasi mereka ke Myanmar.
Sebagai informasi, anak-anak pengungsi Myanmar di Cox’s Bazar, berusia enam hingga empat belas tahun, mengikuti program pendidikan non-formal. Program ini diinisiasi oleh pemerintah maupun organisasi nir laba.
“Tidak ada pendidikan formal untuk anak-anak kami. Kami ingin pendidikan untuk masa depan berikutnya dan reintegrasi ke masyarakat saat mereka melaksanakan repatriasi,” ungkap pendiri Asosiasi Pemuda Rohingya, Khin Maung, kepada Anadolu.
“Prioritas pertama kami adalah kembali ke tanah air dengan hak dan martabat yang penuh. Kami tidak ingin hidup sebagai pengungsi lagi,” sambung Maung.
Pendiri Koalisi Free Rohingya, Ro Nay San Lwin, mengungkapkan bahwa Bangladesh menduga jika pengungsi diberikan hak untuk tinggal, mereka enggan kembali ke Myanmar. Ia pun menganulir anggapan tersebut sembari berkata bahwa pengungsi Rohingya akan segera kembali ke Myanmar manakala situasi dan kondisinya berubah.
“Itu tidak benar. Kami milik Myanmar. Kami pasti akan kembali ke Myanmar begitu situasinya berubah,” ucap Ro Nay San Lwin.
Sementara itu, Pemerintah Bangladesh terus melakukan upaya dan langkah demi mempercepat proses repatriasi pengungsi Rohingya. Meski demikian, mereka menolak untuk memberikan pendidikan berbasis sertifikat bagi warga negara lain termasuk para pengungsi.
“Anak-anak dan remaja Rohingya harus mendapatkan pendidikan di bawah kurikulum dan bahasa yang sesuai di Myanmar sehignga dapat dengan mudah mendapatkan status kewarganegaraan Myanmar dari Rohingya,” ujar pejabat Kementerian Luar Negeri Bangladesh, Md Delwar Hossain.
“Pada Januari 2020, kami mendapatkan draf kebijakan setelah pertemuan dengan badan PBB, yang peduli dengan pendidikan anak, tetapi tidak cukup komprehensif. Kami meminta mereka untuk membuat rencana lengkap dan masih menunggu kabar dari mereka,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]





















