Sana’a, Gontornews — Menyusul perang Yaman yang tak kunjung usai serta upaya perdamaian yang terhenti, ancaman kelaparan dan kurang gizi warga Yaman meningkat. Salah seorang warga Yaman, Hussein Abdu, menuturkan bahwa kondisi ‘kelaparan’ sebelum dan selama perang sangat berbeda.
“Sebelum perang, kami berhasil mendapatkan makanan karena harga makanan dapat terjangkau dan masih ada pekerjaan,” kata Abdu yang berasal dari al-Jaraib, provinsi Hajjah, Yaman kepada Reuters.
“Sekarang, ketika ketegangan meningkat secara signifikan, kami hanya mengandalkan roti dan yoghurt sebagai nutrisi,” tambah Abdu.
Saat ini Yaman mengalami kekurangan air. Beberapa daerah di Yaman misalnya membutuhkan pompa untuk menarik air tanah ke permukaan. Harga air bersih pun melambung tinggi secara signifikan yang diikuti dengan terbatasnya pasokan bahan bakar.
Lebih lanjut, putri Abdu yaitu Afaf hanya dapat mengonsumsi buah dan sayur tanpa asupan karbohidrat semisal gandum yang memadai.
“Demi Tuhan, jika aku memiliki sesuatu, aku akan membelikannya sayur dan buah. Sayangnya, aku tidak memiliki apa-apa,” kata Abdu mengomentari putrinya, Afaf, yang mengalami kurang gizi.
Abdu menambahkan saat ini harga kebutuhan bahan pokok melambung tinggi. Untuk beras 5 kg yang sebelumnya dijual dengan harga 150 Real Yaman sekarang dijual dengan harga 3.500 Real Yaman. Kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya seperti gandum juga mengalami kenaikan harga yang drastis.
“Kantong beras 5 kg berharga 1.500 Real Yaman sebelum perang dan sekarang harganya naik hingga 3.500 Real Yaman,”
“Kantong gandum 20 kg dulunya hanya 6.000 Real Yaman sekarang 9.000 Real Yaman. Semua harga telah berubah termasuk sayuran. Satu kilo tomat, misalnya, dulu hanya dijual 100 Real Yaman dan kini seharga 500 Real Yaman,” pungkas Abdu. [Mohamad Deny Irawan]




















