Oslo, Gontornews — Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed menerima nobel perdamaian di Oslo, Norwegia, Selasa (10/12). Peroleh nobel perdamaian karena keberhasilannya dalam menghentikan konflik Ethiopia dengan Eritrea yang telah berlangsung selama dua dekade.
“Saya menerima penghargaan ini atas nama orang-orang Ethiopia dan Eritrea, terutama mereka yang melakukan pengorbanan utama demi perdamaian,” kata Abiy setelah menerima penghargaan prestisius dalam sebuah upacara resmi di Balai Kota Oslo seperti yang dikutip Aljazeera.
Dalam kesempatan tersebut, Abiy juga mengungkapkan peran Presiden Eritrea, Isaias Afwerki dengan niat baiknya serta kepercayaan dan komitmennya dalam mengakhiri konflik diantara dua negara itu.
Laki-laki berusia 43 tahun itu menceritakan pengalaman mengerikan saat ia menjadi prajurit dalam konflik Ethiopia-Eritrea dan menyampaikan tekadnya untuk mencari jalan keluar dari konflik tersebut.
“Dua puluh tahun yang lalu, saya adalah seorang operator radio yang terikat pada unit tentara Ethiopia di kota perbatasan Badame,” kenangnya.
Saat meninggalkan posko, lanjutnya, untuk mendapatkan signal yang baik, namun hanya hitungan menit, saat kembali, ia mendapati unitnya hancur dalam serangan artileri.
Hanya dua bulan setelah menjadi perdana menteri, ia mengumumkan bahwa Ethiopia akan sepenuhnya menerima persyaratan perjanjian damai dengan musuh lamanya Eritrea.
Dalam kesepakatan perdamaian yang didukung oleh PBB pada tahun 2000 lalu, Ethiopia memberikan wilayah perbatasan yang dipersengketakan ke Eritrea, akan tetapi perjanjian itu tidak pernah dilaksanakan dan pertempuran kecil terus berlanjut.
Hingga pada saat pemulihan hubungan, saat Abiy mengunjungi Asmara dan menjadi pemimpin Ethiopia pertama yang mengunjungi Eritrea dalam sekitar 20 tahun.
Kedua negara segera melanjutkan penerbangan dan membangun kembali saluran telepon. Namun perbatasan darat antara kedua negara Afrika Timur masih tetap ditutup.
Lebih dari 80.000 orang terbunuh dan ratusan ribu lainnya terpaksa keluar dari rumah mereka selama perang dua tahun yang pecah antara para tetangga pada tahun 1998.[Devi Lusianawati]






















