Baghdad, Gontornews — Perdana Menteri (PM) Irak Haider al-Abadi dan pemimpin Syiah Muqtada al-Sadr sepakat membentuk koalisi untuk menciptakan pemerintahan baru setelah ketegangan politik berminggu-minggu pascapemilihan parlemen bulan lalu.
Aliansi Sairoon pimpinan Sadr memenangkan 54 kursi dalam pemungutan suara 12 Mei untuk menjadi poros terbesar di parlemen Irak yang beranggotakan 329 orang. Sementara aliansi Abadi berada di posisi ketiga, dengan 42 kursi.
Setelah pertemuan tiga jam pada hari Sabtu (23/6) di kota suci Syiah, Najaf, kedua pria itu mengeluarkan pernyataan bersama bahwa mereka telah membentuk sebuah koalisi.
Pernyataan itu mengatakan, aliansi mereka dibangun untuk mengatasi isu-isu sektarianisme dan etnis untuk mempercepat pembentukan pemerintahan baru, dan menyepakati prinsip-prinsip yang melayani aspirasi rakyat.
“Kami mengumumkan aliansi lintas-sektarian lintas-etnis untuk mempercepat pembentukan pemerintah berikutnya dan untuk menyetujui poin-poin umum yang menjamin kepentingan rakyat Irak,” kata Sadr pada konferensi pers setelah pertemuan itu seperti dikutip Aljazeera.
Sadr, yang pernah memimpin kampanye kekerasan terhadap pendudukan AS yang berakhir pada tahun 2011, telah muncul sebagai lawan nasionalis dari partai-partai Syiah yang kuat yang bersekutu dengan negara tetangga Iran dan sebagai pembela kaum miskin.
Dia menyerukan aliansi yang lebih luas yang terdiri dari semua komponen masyarakat Irak yang akan membentuk pemerintahan yang inklusif. [Rusdiono Mukri]






















