Islamabad, Gontornews — Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, tidak akan menerima pemungutan suara yang bertujuan untuk menggulingkannya dari posisinya. PM Imran Khan menduga bahwa skenario tersebut diatur oleh Amerika Serikat.
Partai-partai oposisi di Pakistan menyebut PM Imran Khan telah gagal dalam menghidupkan kembali ekonomi yang terpukul akibat pandemi Covid-19. Khan, sambung partai oposisi, juga tidak memenuhi janji untuk membuat pemerintahannya secara transparan dan akuntabel. Karena itu, partai oposisi melancarkan mosi tidak percaya kepada PM Khan.
“Bagaimana bisa saya menerima hasil ketika seluruh proses didiskreditkan?” kata Khan saat berbicara kepada wartawan, Sabtu (2/4/2022).
“Demokrasi berfungsi pada otoritas moral. (Jadi) otoritas moral apa yang tersisa setelah kerja sama ini?” sambung Khan sebagaimana dilansir Reuters.
“Langkah untuk menggulingkan saya adalah campur tangan politik domestik secara terang-terangan oleh Amerika Serikat,” jelas Khan.
Secara tegas, Khan menyebut ada upaya yang mendorong perubahan rezim di Pakistan.
Sebagaimana diketahui, PM Khan kehilangan dukungan parlemen setelah sekutunya keluar dari kolaisinya dan bergabung dengan oposisi. Khan lantas mendesak para pendukungnya untuk terjun ke jalan jelang pemungutan suara, Ahad.
Beberapa jam sebelum PM Khan berbicara, kepala tentara Pakistan, Jenderal Qamar Javed Bajwa, mengatakan Pakistan akan mempererat hubungannya dengan Washington.
Meski belum menelepon PM Khan sejak dilantik, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, membantah bahwa pihaknya berusaha untuk menggulingkan PM Khan dari posisinya.
Hubungan tegang dengan Afghanistan disebut-sebut sebagai penyebab menegangnya hubungan Pakistan dengan Washington. Washington menuduh Pakistan mendukung pemberontakan Taliban yang tahun lalu sukses membuat AS menarik mayoritas pasukannya di Afghanistan. [Mohamad Deny Irawan]






















