Wellington, Gontornews — Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mempertanyakan pihak lembaga pemasyarakatan Selandia Baru yang membolehkan pelaku penembakan brutal di masjid Al-Noor Christchurch, Selandia Baru untuk mengirim dan menerima surat. Menurut Ardern, seharusnya, ‘fasilitas’ tersebut ditiadakan bagi tersangka.
“Saya pikir setiap warga Selandia Baru bahwa orang ini (Baron Tarrant-29) tidak dapat berbagi pesan kebenciaannya dari balik jeruji besi,” kata Ardern saat menghadiri Pasific Island Forum di Tuvalu, Rabu (14/8).
“Jelas, ini adalah pelaku yang memiliki tujuan sangat spesifik dalam pikirannya sehingga dalam hal propoganda yang dilakuknanya, kita harus siap menghadapi itu,” tambah Ardern sebagaimana dilansir Reuters.
Sebelumnya, media The New Zealand Helard dan sejumlah media lokal lainnya memperoleh gambar dari surat berisi 6 halaman dan amplop dari pelaku penembakan jama’ah Masjid Al-Noor Christchurch dari penjara Auckland.
Menanggapi hal ini, Menteri Pemasyarakatan Selandia baru, Kelvin Davis mengatakan bahwa, sejauh ini, Tarrant telah mengirim sebanyak sembilan surat dari penjara. Dua surat pertama dialamatkan kepada ibunya, 5 surat dialamatkan kepada yang lain, sementara 2 surat lainnya ditahan. Davis tidak merinci kepada siapa 5 surat tersebut dialamatkan.
“Saya telah meminta tim pengoreksi untuk melihat isi dari surat-surat lainnya. Tetapi, apa yang telah kami lakukan adalah kem menghentikan semua sarat yang dikirim atau yang diterima,” kata Davis kepada Radio Selandia Baru.
Selain mengirimkan surat, rupanya Tarrant menerima lusinan surat dari seluruh dunia. Beberapa surat ditahan dan beberapa lainnya disampaikan kepada pelaku yang menewaskan 59 orang muslim di Christchurch tersebut.
“Kami telah melakukan perubahan pada manajemen surat (yang dialamatkan) kepada tahanan untuk memastikan bahwa proses kami yang kuat sama efektifnya dengan apa yang kami inginkan,” pungkas Davis. [Mohamad Deny Irawan]





















