Yangon, Gontornews — Setidaknya satu orang meninggal dunia setelah pihak kepolisian Myanmar melancarkan tembakan ke arah demonstrasi antipemerintah di Yangon, Myanmar, Jumat (5/3/2021). Insiden ini mendorong Dewan Keamanan PBB untuk membahas krisis tersebut.
Akibat kekerasan terhadap warga sipil, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru kepada para petinggi junta militer. Para demonstran menuntut pemulihan pemerintah terpilih serta pemimpin de facto mereka, Aung San Suu Kyi, dan petinggi partai Nation League for Democration (NLD).
βZaman batu sudah berakhir. Kami tidak takut hanya karena kamu mengancam kami,β kata para demonstran antijunta militer.
Seorang saksi, sebagaimana dilansir Channel News Asia (CNA) dari Reuters, mengatakan polisi melepaskan tembakan ke arah demonstran yang berdemonstrasi di Yangon. Polisi menembakkan peluru karet dan granat kejut untuk membubarkan demonstrasi yang diikuti oleh sekitar 100 dokter berjas putih.
Sebelum berdemonstrasi, masa berkumpul di Pathenin dan Myingyan. Mereka mempersiapkan aksinya dengan rapi seraya menyerukan pembebasan Aung San Suu Kyi.
Selain di Yangon, demonstrasi serupa juga terjadi di negara bagian Karen. Para demonstran melakukan protes bersama pasukan Karen National Union (KNU), yang telah berperang dengan junta militer Myanmar sejak lama.
Selama demonstrasi, pasukan KNU memberikan hormat tiga jari yang populer di kalangan pengunjuk rasa antikudeta militer. KNU mengatakan bahwa mereka tidak akan menolerir serangan militer terhadap para demonstran yang melakukan aksinya secara damai.
βOrang-orang perkotaan, kelompok etnis bersenjata dan komunitas internasional terus bekerjasama sampai kediktatoran militer jatuh,β tegas KNU. [Mohamad Deny Irawan]





















