Ponorogo, Gontornews — Pondok Pesantren Wali Songo (PPWS) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pondok Ngabar merupakan salah satu pondok pesantren yang terletak di Kabupaten Ponorogo tepatnya di Jl Sunan Kalijogo, Desa Ngabar, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Pondok pesantren ini didirikan oleh KH Muhammad Thoyyib dan dibantu oleh ketiga putranya yaitu KH Ahmad Thoyyib, KH Ibrahim Thoyyib, dan KH Ishaq Thoyyib. Waktu pendiriannya yakni pada tanggal 4 April 1961.
Pada tanggal 6 Juli 1980 di hadapan Menteri Agama RI beserta tamu undangan lainnya, Pondok Pesantren Wali Songo resmi diwakafkan. “Ku titipkan masa depan pondok ini kepada alumni,” ujar KH Ibrahim Thoyyib.
Pimpinan Pondok
Pondok Pesantren Wali Songo sejak awal didirikan sampai tahun 2001 masih diasuh dan dipimpin oleh keluarga pendiri. Sedangkan mulai tahun 2001 sampai sekarang telah dipimpin oleh 3 (tiga) orang yang dipilih oleh Majlisu Riyasatil Ma’had. Mereka bertugas sebagai lembaga tertinggi dengan masa kepemimpinan 5 (lima) tahun.
“Saat ini pimpinan Pondok Pesantren Wali Songo ialah KH Drs KH Moh Ihsan, MAg, KH Heru Saiful Anwar, MA, dan Drs KH Muhammad Tholhah, SAg,” jelas Ustadzah Elok Nurma, guru setempat kepada Gontornews.com. Ketiga pimpinan pondok tersebut hingga kini terus berjuang melanjutkan visi dan misi pondok agar sesuai dengan cita-cita awal para pendirinya.
Keunggulan Pesantren Wali Songo
Pertama, pendidikan pesantren dibina oleh lulusan dari dalam dan luar negeri. Kedua, proses belajar mengajar yang menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
Ketiga, alumni PPWS Ngabar bisa melanjutkan ke berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri (Madinah, Mesir, Sudan, Pakistan, Malaysia, Australia, Thailand, dll).
Keempat, lingkungan kampus yang aman, nyaman, serta jauh dari pengaruh globalisasi. Kelima, tersedianya ekstrakurikuler yang lengkap sebagai penunjang kegiatan santri.
Selain keempat hal di atas, sejak tahun 2016 lalu telah ada banyak program utama pondok. Pertama, peningkatan pembelajaran al-Qur’an yang sebenarnya sudah berjalan bertahun-tahun. Baik berupa program tahsin juga tashih dengan menggunakan Metode UMMI.
Program ini diperuntukan untuk seluruh santri yang dibina dan diajar langsung oleh para guru dan santri kelas 6 dan 5, yang telah menyelesaikan pembelajaran UMMI jilid 6 dan al-Qur’an. Begitu pula program tahfidh bagi santri-santri yang berminat.
Dimana pada tahun ini santri yang telah menghafal, paling tinggi telah berhasil menghafal sebanyak 15 juz untuk santri putra, dan 5 juz untuk santri putri. Porgram ini ditangani langsung oleh lembaga UMMI Pondok dan Majelis Pembimbing Santri.
Kedua, program unggulan saat ini adalah peningkatan bahasa percakapan dan tulis dengan dibentuknya lembaga khusus yang ditangani langsung oleh guru dengan membawahi bagian bahasa OSWAS (Organisasi Santri “Wali Songo”).
Selain itu, ketiga yakni program kaderisasi pondok. Program ini ditujukan untuk keberlangsungan PPWS Ngabar untuk guru-guru berkeluarga yang masih muda dengan memberikan beberapa pelatihan kepemimpinan.
Pada tahun 2019 ini, jumlah santri di Pondok Ngabar sebanyak 1024 santriwan dan 1129 santriwati,” pungkas Elok, alumnus Gontor Putri asal Batang, Jawa Tengah tersebut. <Edithya Miranti>






















