Jakarta, Gontornews — Siapa tak kenal Direktur Pendidikan Tinggi Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama dan Guru Besar Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang satu ini. Dialah Prof Amsal Bakhtiar MA. Alkisah, setamat dari Gontor tahun 1980, ia melanjutkan studinya di IAIN Syarif Hidayatullah (kini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) S1 hingga S3.
Di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini pula Amsal Bakhtiar lama berkarir dari asisten dosen, hingga Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pernah ia rasakan. βSaya berkarir di perguruan tinggi lebih lama. Pertengahan 2013 saya diangkat menjadi Wakil Rektor. Awal 2015 saya diangkat jadi Direktur Pendidikan Tinggi Islam. Jadi di Diktis baru 1,5 tahun,β paparnya kepada Gontornews.com.
Dalam mengarungi bahtera kehidupannya, Amsal tidak lepas dari peran dan cita-cita kedua orangtuanya yang menyekolahkannya di sekolah agama. Pria kelahiran Padang Panjang, 19 Desember 1960 ini menjelaskan, Β ia dididik oleh orangtua yang taat beragama. βSaya dari keluarga yang Islamnya cukup kuat. Bahkan sangat kuat yaitu dari keluarga Masyumi. Ibu saya guru SD, penceramah, aktivis masjid. Bapak saya pegawai di PDK waktu itu (sekarang Kemendikbud). Saya disekolahkan oleh orangtua yang bercita-cita untuk menjadi pengganti beliau kelak,β jelasnya.
Sebelum studinya ke Gontor, Amsal sempat sekolah di Tawalib Padang Panjang. Tamat SD sekolah di Tawalib Padang Panjang, tapi kemudian dipertimbangkan supaya melanjutkan sekolah di Gontor. βMaka saya diantar oleh ibu ke Gontor. Waktu itu dengan segala keterbatasan naik kapal laut sampai Jakarta. Lalu mampir ke tempat famili, lanjut ke Madiun naik kereta. Dari Madiun ke Gontor. Alhamdulillah, waktu di maβhad hanya lima tahun. Lompat satu tahun. Kelas 1B, 3B, 4B, 5B, 6B. Waktu kelas 5 – 6 (1979-1980) saya Wakil Ketua OPPM,β ujarnya.
Bagi Amsal, Gontor mengajarkan kemandirian, dan memberikan pesan yang universal. βPendidikan kehidupan diberikan kepada kita. Di Gontor banyak sekali pengalaman dan teman yang saya dapatkan. Saya berkenalan dengan orang Gorontalo, Aceh, hampir dari seluruh penjuru ada. Inilah yang kemudian memperkaya kepribadian saya dan kematangan pribadi sampai sekarang,β ucapnya.
Setamat dari KMI, oleh orangtuanya Amsal direncanakan ke Mesir atau Madinah dengan biaya dari Rabithah Alam Al Islamy. Ketemu Pak Nastir di Jakarta dan Pak Natsir memberikan syarat jika ingin ikut program tersebut, syaratnya mengabdi dua tahun di pedalaman. Singkat cerita, Amsal pun ambil program itu. βSaya mengabdi jadi dai di pedalaman Sumatera pada 1965. Di daerah transmigran yang banyak Kristennya. Di Sumber Agung Kinali Pasaman Barat. Di situ saya mengabdi dua tahun,β ungkapnya.
Namun dalam perjalanannya, Pak Natsir dicekal oleh Pemerintahan Suharto waktu itu, karena terlibat Petisi 50 menentang pemerintah. Karena itu, maka sulit untuk mengirim tenaga-tenaga dai ke luar negeri. βSenior-senior saya juga banyak yang tidak berhasil. Daripada saya tidak kuliah saya banting setir. Karena terbiasa jauh awalnya ingin kuliah di IAIN Makassar. Tetapi oleh kakak dilarang. Sudah kuliah di Jakarta saja. Di Jakarta lebih bagus. Karena pusat ilmu, banyak orang pintar dan lain sebagainya. Saya pun ikut nasihat kakak. Saya kuliah di IAIN Jakarta (kini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta),β ujarnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien/Rus]





















