Jakarta, Gontornews — Sebagai negara yang mencintai perdamaian dan keadilan, Indonesia perlu mendesak Israel untuk mundur dari wilayah pendudukan di Palestina, menghentikan genosida, dan segera menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Gaza yang kelaparan. Demikian disampaikan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr M Din Syamsuddin, dalam press release-nya kepada Gontornews.com, Rabu (24/9/2025).
Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta itu menyatakan pendapatnya mengomentari pidato Presiden Prabowo Subianto dalam sidang Majelis Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Selasa (23/9/2025).
Lebih lanjut Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengatakan solusi dua negara (two state solution) merupakan pikiran lama yang dianut pemerintan negara-negara anggota OKI (Organisasi Kerjasama Islam), termasuk Indonesia. Sebuah pikiran yang sesungguhnya baik guna mengakhiri konflik antara Israel dan Palestina yang tak kunjung selesai dan berdampak global.
Namun, tegas Din, solusi dua negara itu memerlukan beberapa persyaratan. Pertama, pengunduran diri Israel atas wilayah Arab yang dikuasainya sejak Perang 1967 seperti Sinai dan Dataran Tinggi Golan. Kedua, penghentian pembangunan Pemukiman Yahudi di Wilayah Tepi Barat. Ketiga, status Jerussalem sebagai kota suci dan tidak boleh dikuasai oleh satu pihak.
Tapi, Israel tidak pernah mau memenuhi persyaratan ketiga ini. Bahkan, pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat semakin menjadi-jadi, dan secara sepihak Israel dengan dukungan Amerika Serikat menjadikan Jerussalem sebagai Ibu Kota.
Selain terus-menerus melakukan pembangunan pemukiman di Tepi Barat, Israel juga melakukan genosida atas warga Gaza dan menodai Masjid Al-Aqsha. Karena itu, kesepakatan solusi dua negara menjadi batal.
Sehubungan dengan itu, papar Din, seruan Presiden Prabowo Subianto di PBB untuk revivalisasi solusi dua negara nyaris bak teriakan di tengah samudera, keras tapi hilang ditelan deburan ombak.
“Solusi itu ideal tapi faktor-faktor fundamentalnya harus diatasi terlebih dahulu, yakni penghentian genosida di Gaza dan penguasaan Israel atas wilayah Palestina yang didudukinya. Tanpa itu, dan itu sulit diterima Israel, maka solusi dua negara menjadi hampa,” ujar Ketua Komite Pengarah Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) itu.
Karena itu menurut Din, yang perlu dilakukan Indonesia sebagai negara cinta perdamaian dan keadilan, yaitu mendesak Israel mundur dari wilayah pendudukan, menghentikan genosida, dan segera menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Gaza yang kelaparan.
“Jika jalan damai tidak digubris Israel, maka jalan militer lewat Peace Keeping Force (Pasukan Penjaga Perdamaian) atau War Preventing Force (Pasukan Pencegah Perang) menjadi solusi. Tapi, beranikah Indonesia memelopori opsi ini? Itu sangat tergantung pada nyali dan kekuatan hati Kepala Negaranya,” tandas Din. []




















