Kairo, Gontornews — Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof Dr KH Hamid Fahmy Zarkasyi, Rabu (09/08/2023), menegaskan Pondok Modern Darusssalam Gontor (PMDG) menjadikan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir sebagai inspirasi. Karenanya, PMDG menjadikan Al-Azhar sebagai salah satu falsafah panca jangkanya.
Prof Hamid melanjutkan bahwa Universitas Al-Azhar merupakan institusi pendidikan tertua di dunia yang mampu bertahan selama berabad-abad berkat sistem wakaf yang mereka terapkan. “Banyak pesantren besar yang meredup dan bubar setelah kiai pendirinya wafat,” kata Prof Hamid saat menjadi pembicara dalam Seminar Internasional di Kairo, Mesir.
Dalam laman resmi UNIDA Gontor, Prof Hamid berharap wakaf menjadi masa depan dari tiap-tiap pesantren dan tidak lagi bergantung pada individu pendiri. Putra pendiri PMDG tersebut menjelaskan bahwa wakaf yang perlu mereka terapkan guna menjaga keberlanjutan seperti halnya pengalaman Universias Al-Azhar Kairo Mesir.
Selain Prof Hamid, hadir dalam seminar berjudul ‘Peran Filantropi Islam dalam Membangun Peradaban’ tersebut yakni Prof Dr Mustafa Dasuki Kasbah dari Ainu Syams dan American University in Cairo, Pimpinan PM Tazakka Dr KH Anang Rikza Masyhadi, Ketua Departemen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Sangidu dan Wakil Rektor I UNIDA Gontor Dr Abdul Hafidz Zaid.
Senada dengan Prof Hamid, Kiai Anang, dalam pemaparannya, menjelaskan struktur ekonomi pesantren dan peran zakat dan wakaf dalam pembiayaan. Ia mengilustrasikan hal tersebut dengan minimnya biaya pendidikan di Al-Azhar, yang hanya sekitar 500 ribu, karena mendapatkan sokongan hasil wakaf dan zakat. Oleh karena wakaf dan zakat menjadi sumber pendanaan utama di Al-Azhar maka hasilnya pun dapat memperingan pembiayaan para mahasiswa.
Sekretaris Jendaral Forum Pesantren Alumni Gontor itu pun menyarankan agar pesantren di Indonesia dapat mengembangkan pendanaan dari sumber wakaf, zakat dan usaha eknomi pesantren dan tidak menggantungkan pada sumbangan dari santri.
Secara khusus, Kiai Anang juga meminta 250 peserta seminar yang hadir untuk mempelajari sistem wakaf di Al-Azhar dan menerapkannya di pesantren atau masyarakat Indonesia.
“Seharusnya, para alumni Al-Azhar dapat kembali ke tanah air dengan ilmu, wawasan, pengalaman, dan gagasan perubahan untuk kemajuan umat dan bangsa,” jelas Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor 1996.
Pada kesempatan yang sama, Dr Abdul Hafidz Zaid menegaskan pentingnya membangun sistem kelembagaan yang kuat di pesantren dan perguruan tinggi pesantren. Dengan sistem yang kuat, termasuk dalam pendanaannya, institusi pesantren dapat bertahan dan berkembang di masa depan.
Seminar ini merupakan bagian dari acara peluncuran beasiswa ASFA Foundation dan serangkaian seminar internasional selama tiga hari yang diselenggarakan oleh Al-Azhar, KBRI Kairo, dan ASFA Foundation di Al-Azhar Convention Center dan Hall Shaleh Kamel. [Mohamad Deny Irawan]























