Yogyakarta, Gontornews — Aupair adalah program pertukaran kebudayaan. Program ini diikuti oleh berbagai negara di penjuru dunia, salah satunya Indonesia.
“Orang Indonesia diperbolehkan mengikuti program ini untuk saling bertukar kebudayaan dengan negara lain sesama negara aupair. Aupair sendiri berasal dari bahasa Prancis, artinya timbal balik/feedback. Peserta aupair diangkat menjadi anak angkat oleh warga negara tujuan. Contohnya saya memilih negara Jerman, maka saya diangkat menjadi anak angkat oleh warga negara Jerman,” papar Ratna Sari Rahmayanti asal Yogyakarta ini.
Ratna menjelaskan, sebagai peserta Aupair Ia mendapat fasilitas sekolah bahasa gratis, uang saku bulanan, kebutuhan hidup selama di Jerman ditanggung orangtua angkat, dan juga asuransi. “Feedback untuk mereka, saya membantu mereka dalam urusan bersih-bersih rumah dan mengasuh anak. Karena saya menjadi keluarga mereka, maka sudah menjadi hal lumrah kalau saya ditugaskan untuk bersih-bersih dan mengasuh anak. Toh bersih-bersih dan mengasuh anak sudah jadi kerjaan harian saya di rumah,” lanjut alumni Gontor Putri 2010 ini.
Ratna menuturkan, Aupair merupakan jalan mewujudkan mimpi tinggal di Jerman secara gratis. Kok gratis? Karena semua kebutuhan hidup selama di Jerman ditanggung oleh orangtua angkat di sana. Sedangkan kalau program lain, misalnya kuliah atau liburan, kita harus mempunyai deposit, kita harus mengeluarkan uang banyak. Apalagi biaya hidup di sana tinggi. Lalu, mengapa memilih Jerman? “Karena saya ingin belajar budaya Jerman, yang nantinya akan saya aplikasikan di Indonesia saat pulang. Budaya tepat waktu, budaya membuang sampah, bahkan budaya toleransi.”
Ratna menuturkan, aupair sangat cocok untuk para pecinta travelling. Apalagi kalau mendapat orangtua angkat yang suka travelling juga. “Tujuannya ke Jerman, mainnya bisa ke seluruh negara Uni Eropa,” ujarnya.
Ratna akan berangkat bulan Februari 2017. Aupair menawarkan kontrak minimal 3 bulan dan maksimal satu tahun. “Aku ikut yang satu tahun, biar merasakan 4 musim. Apalagi salju yang nggak ada di sini. Program ini individual, jadi daftar sendiri di website aupairworld.com. Syaratnya usia 18-27 tahun, single, bisa urus anak, dan menguasai bahasa negara yang akan dituju minimal level dasar,” tambah Ratna.
“Karena negara tujuanku Jerman, maka aku harus menguasai bahasa Jerman minim level dasar. Ini dibuktikan dengan sertifikat bahasa Jerman yang dikeluarkan oleh Goethe Institute cabang Indonesia. Sertifikat ini juga sebagai syarat membuat visa aupair,” terangnya.
Ratna akan tinggal di Badenwürttemberg, Stuttgart. Salah dari kota besar di Jerman selatan. Kota ini berbatasan langsung dengan Prancis dan Spanyol. “Rencana sih aku bakal main-main ke sana. Jadi, untuk teman-teman yang ingin merasakan hidup di negara lain dengan gratis, malah dibayar, aku recommend ikut aupair deh.”
Ratna sendiri ingin melanjutkan program S2 di Jerman, tapi ia lebih memilih mengikuti program aupair dulu. Sebab, menurutnya, program S2-nya akan lebih maksimal jika dia sudah menguasai bahasa dan budaya Jerman.
Lalu berapa biaya yang harus dipersiapkan untuk ikut program aupair? “Passport 355 ribu, ujian bahasa Jerman 70€, pembuatan visa 60€, tiket pesawat biasanya fifty-fifty sama orangtua angkat, bahkan ada yang ditanggung. Untuk belajar bahasa Jerman, di Jogja biasanya level A1 rata-rata 2 juta selama 3 bulan,” terang Ratna. [Yuzaq Ardian/Al Hafidh]





















