Kairo, Gontornews — Ribuan mahasiwa Indonesia di Mesir mengikuti workshop pemikiran Islam yang diselenggarakan oleh Pusat studi Pemikiran Islam dan Peradaban, Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), dan Lembaga Amil Zakat dan Shodaqoh As-Salam fil ‘Alamin (ASFA) Fondation.
Acara yang diselenggarakan pada 6-8 Agustus 2023 itu mengundang sejumlah pembicara seperti Rektor UNIDA Gontor Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, (Assoc) Prof Dr Syamsuddin Arif, Dr Nirwan Syafrin hingga Mohammad Syam’un Salim. Tidak ketinggalan, Ketua Lazis ASFA Fondation Jenderal (Purn) Syafrudin Kambo dan Ketua Dewan Syari’ah Lazis ASFA Fondation sekaligus Pimpinan Pondok Modern Tazakka Dr KH Anang Rikza Masyhadi hadir dalam pertemuan di Aula Al-Azhar Convention Center (ACC) tersebut.
Dalam sambutannya, Kiai Anang menjelaskan kemajuan Indonesia pada tahun yang akan datang bertumpu pada sumberdaya manusianya, tanpa terkecuali mahasiswa Indonesia di Al-Azhar. Oleh sebab itu, penguasaan pada diskursus keilmuan amat dibutuhkan termasuk penanaman serta penguasaan seputar isu-isu pemikiran Islam.
Sementara itu, Direktur Utama INSISTS, Prof Hamid Fahmy Zarkasyi menegaskan bahwa isu pemikiran yang berkembang di masyarakat harus bisa dijawab secara pemikiran. Pun berkembangnya syubhat pemikiran juga harus mendapatkan jawaban, secara akademis.
Dalam pemaparannya, Prof Hamid mengungkap bahwa Islam tidak mengenal dikotomi realitas dan kebenaran. Suatu realitas indrawi, sekalipun ia diyakini atau dilaksanakan oleh semua orang (objective reality) dan menjanjikan kebenaran objektif (objective truth) tidak otomatis bermakna (haq) dalam Islam. Sebut saja fenomena nikah sesama jenis (same sex marriage) misalnya, tidak bisa disebut benar sekalipun secara objektif diakui dan dilakukan oleh masyarakat global.
Maka, dalam kerangka berpikir pandangan Islam (islamic worldview), dimensi dari realitas tidak terbatas pada satu aspek. Realitas bisa berdimensi holistik: yang fisik dan nonfisik sekaligus. Ini juga yang kemudian menjadi ciri khas dari Islam, di mana pandangan yang holistik terbentuk. Ada pula istilah keterpaduan antara Islam, Iman, Ihsan; iman dan amal; aqidah, syariah, akhlak; tauhid, fikih, tasawuf dan seterusnya.
“Kita tidak sadar bahwa trilogi ajaran Islam ini adalah trilogi yang tak terpisahkan. Banyak yang hanya mengambil satu, dengan melupakan yang lain. Ada orang yang berilmu pengetahuan, namun perbuatannya tidak sesuai dengan ilmunya; tidak ada imannya, ada pula yang mengklaim tinggi iman, namun tidak memiliki ilmu,” tutup Prof Hamid. [Mohamad Deny Irawan]























