Batang, Gontornews — Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Dr KH Anang Rikza Masyhadi, mengatakan bahwa maksud dari peringatan HUT RI ke-78 mewarisi semangat juang para pahlawan yang antipenjajah dan penjajahan.
Sekretaris Jenderal Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) itu menegaskan bahwa kemerdekaan harus juga dimaknai sebagai kemerdekaan dan kemandirian dalam mengelola sumberdaya alam dan bukan sekedar kedaulatan teritorial saja.
“Upacara seperti ini bukan sekedar memperingati tahun kemerdekaan saja tetapi juga memperingati dan mewarisi semangat juang antipenjajah dan penjajahan. Jangan terjebak pada seremonial tapi melupakan substansi,” ungkap Kiai Anang saat memimpin upacara peringatan HUT RI ke-78 di Pondok Modern Tazakka, Kamis 17 Agustus 2023.
“Merdeka jangan hanya dipahami sebagai kedaulatan teritorial saja. Tetapi, merdeka juga harus dimaknai sebagai kemerdekaan dan kemandirian mengelola sumberdaya alam yang bertumpu pada sumberdaya manusia bangsa Indonesia,” sambungnya melalui Instagram.
Kiai Anang menjelaskan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia juga memiliki arti merdeka dalam mengelola kehidupan sosial dan politik tanpa intervensi asing. Untuk itu, para santri harus berpikir dan bekerja untuk negeri dan bangsanya.
Seorang santri, sambung alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor 1996 tersebut, harus menjadi manusia yang berkualitas agar dapat mengisi banyak ruang, peran, kiprah serta kontribusi untuk bangsa. “Jika santri tidak berkualitas, maka peran-peran itu nanti akan diisi orang lain,” tegasnya.
“Kemerdekaan dinyatakan sebagai rahmat Allah Yang Maha Kuasa, tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Artinya, para Pendiri Republik ini meletakkan dasar dan falsafah negara secara religius. Maka, nasionalisme dan religiusitas adalah satu nafas kesatuan berbangsa dan bertanah air,” ujarnya.
“Jika masih ada yang membenturkan keduanya, maka ia tak paham sejarah dan tak menghayati dasar negara ini,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]





















