Padang, Gontornews — Perjuangan dan ikhtiar bersama Trimurti (Tiga Kiai Pendiri) Gontor dalam merintis dan mengembangkan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) merupakan salah satu tinta emas sejarah pendidikan di abad ke-20. Terkait itu, Sumatera Barat tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang pendirian dan pengembangan PMDG.
Demikian disampaikan Sekretaris Pimpinan (Sekpim) PMDG dalam rilisnya terkait dengan kegiatan rihlah napak tilas sanad keilmuan Gontor di Bumi Minang, Senin (17/11/2025).
Sekpim menuturkan, KH Ahmad Sahal dan KH Zainuddin Fanani merestui dan mengirim KH Imam Zarkasyi ke Sumatera Barat, yang merupakan pintu gerbang masuknya gerakan salaf dan pembaharuan pemikian Islam ke Indonesia pada penghujung abad ke-19, untuk menimba ilmu dan pendidikan yang hasilnya menjadi modal pengembangan dan modernisasi pendidikan di Gontor.
Setelah lima tahun lamanya KH Imam Zarkasyi menuntut ilmu di Kota Solo, ujar Sekpim, pada tahun 1930 beliau melanjutkan studi ke Padang Panjang, Sumatera Barat. Sekolah pertama KH Imam Zarkasyi di sana yaitu Sumatera Thawalib School selama dua tahun.
“Di sekolah yang dipimpin Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim tersebut, KH Imam Zarkasyi langsung duduk di kelas lima karena hasil pendidikan sebelumnya di Solo,” paparnya.
Setelah lulus dari Sumatera Thawalib School, KH Imam Zarkasyi melanjutkan pendidikannya di Normal Islam School (Kulliyatul Mu‘allimin al-Islamiyah) yang dipimpin Haji Mahmud Yunus.
“Pada masa itu, Normal Islam School dianggap sebagai sekolah yang modern, baik kurikulumnya maupun didaktik dan metodiknya, di samping bangunannya. Isi kurikulumnya meliputi ilmu pengetahuan umum, bahasa Arab, dan bahasa Inggris,” lanjut Sekpim.
Dari Haji Mahmud Yunus, KH Imam Zarkasyi kemudian mempelajari beberapa ilmu, khususnya bahasa Arab. Di sini KH Imam Zarkasyi menemukan cara-cara mengajarkan bahasa Arab atau bahasa Inggris yang efektif melalui direct method (thariqah mubasyirah).
Sekpim menyebutkan, selain menemukan metode pengajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris, KH Imam Zarkasyi juga memperoleh wawasan tentang pendidikan modern, sebab Haji Mahmud Yunus juga seorang pembaharu sistem pendidikan madrasah.
“Dari gurunya tersebut, KH Imam Zarkasyi mulai mengenal sistem sekolah yang baik dengan kurikulum yang teratur, terstruktur, dan efektif.”
Setelah menamatkan studi di Normal Islam School (Kulliyatul Mu‘allimin al-Islamiyah) pada 1935, KH Imam Zarkasyi ditunjuk Haji Mahmud Yunus sebagai Direktur Kweekschool Muhammadiyah di Padang Sidempuan. “Karenanya, beliau menulis surat kepada kakaknya, KH Ahmad Sahal untuk mengizinkannya menjalankan tugas tersebut sehingga kepulangannya ke Gontor tertunda satu tahun,” kata Sekpim.
Namun, tugas sebagai direktur tersebut pada kenyataannya memberikah hikmah, yaitu KH Imam Zarkasyi dapat mempraktikkan pengajaran bahasa Arab dengan metode baru serta penerapan sistem pendidikan yang lebih terstruktur dan efektif.
“Hal ini menjadi modal sangat penting dalam menerapkan sistem Kulliyatul Mu‘allimin al-Islamiyah (KMI) serta mengembangkan sistem pendidikan di Gontor bersama KH Ahmad Sahal dan KH Zainuddin Fanani,” terang Sekpim.
Semoga Allah SWT mencatat semua amal jariyah Trimurti Gontor dalam mizan hasanat. Senantiasa melimpahkan ridha, taufik, rahmat, dan berkah-Nya kepada Sumatera Barat dan segenap warganya, serta kepada Gontor dan keluarga besarnya dalam mengemban amanah perjuangan pendidikan fillah lillah. Aamiin. []
























