Kota Gaza, Gontornews — Setidaknya enam orang tewas dalam serangan udara di seluruh Jalur Gaza pada hari Rabu (19/5) ketika pemboman tanpa henti Israel memasuki hari ke-10 berturut-turut. Jumlah tewas di pihak Palestina menjadi 227 orang.
Serangan terbaru datang dari pesawat tempur dan artileri yang ditempatkan di perbatasan utara dan timur Gaza, serta dari kapal perang di lepas pantai.
Rumah dan apartemen menjadi sasaran serangan Israel selain situs militer milik Hamas dan Jihad Islam. Serangan ini memaksa banyak keluarga dari daerah perbatasan yang meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di sekolah-sekolah yang dikelola PBB.
Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, 227 warga Palestina, termasuk 64 anak-anak dan 38 wanita, telah tewas sejak awal pertempuran, sementara 1.620 lainnya terluka.
Di antara korban terakhir yaitu Yusef Abu Hussein, jurnalis Radio Al-Aqsha yang berafiliasi dengan Hamas, yang tewas ketika rumahnya dibom pada Rabu pagi.
Kantor media pemerintah di Gaza mengatakan bahwa 107 warga Palestina mengevakuasi rumah mereka, menambah 58.000 warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal atau mencari perlindungan di sekolah dan tempat penampungan PBB.
Tiga masjid hancur dan 40 lainnya rusak dalam pemboman itu, kata Kementerian Wakaf Palestina.
Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, dan Brigade Al-Quds, sayap bersenjata Jihad Islam, mengatakan bahwa tembakan artileri telah diarahkan ke situs militer di sekitar Jalur Gaza dan roket ditembakkan ke kota-kota Israel.
Jumlah serangan yang diluncurkan dari Jalur Gaza telah menurun dalam beberapa hari terakhir di tengah meningkatnya pembicaraan tentang perjanjian gencatan senjata dengan Israel.
Awalnya roket ditembakkan ke arah Tel Aviv dan kota-kota di Israel tengah, tetapi serangan rudal terbaru telah diarahkan ke daerah perkotaan yang berdekatan dengan Jalur Gaza, serta Ashkelon dan terkadang Ashdod.
Dawood Shehab, seorang pejabat Jihad Islam, mengatakan melalui penengah perdamaian Mesir, serangan roket ke Tel Aviv dihentikan dengan imbalan diakhirinya penghancuran gedung-gedung tempat tinggal di Gaza.
“Kami menerima proposal pada Rabu pagi dari Mesir, yang saat ini sedang dirancang oleh Mesir, dan akan dibahas dalam upaya mencapai kesepakatan gencatan senjata,” kata Shehab dikutip Arabnews.com.
“Tuntutan kami penghentian pelanggaran Israel atas Yerusalem dan Masjid Al-Aqsha, dan memastikan rekonstruksi Jalur Gaza setelah perang berakhir,” tambahnya.
Shehab tampak puas dengan pencapaian faksinya. “Pertempuran menghidupkan kembali masalah Yerusalem di dunia, dan diketahui semua pihak bahwa Yerusalem merupakan garis merah yang tidak dapat dilintasi.”
Pertempuran itu menyusul bentrokan antara polisi Israel dan Muslim di Masjid Al-Aqsha dan rencana pengusiran warga Palestina dari lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem. Sebagai respons, Hamas dan Jihad Islam menembakkan roket ke Israel.
Mkhaimar Abusada, seorang profesor ilmu politik di Universitas Al-Azhar di Gaza, percaya bahwa Hamas telah mencapai kesuksesan dalam bentrokan terakhirnya dengan Israel dan popularitasnya telah meningkat.
โPopularitas Hamas telah meningkat di Tepi Barat, Yerusalem, dan bahkan di Jalur Gaza, meskipun terjadi pemboman. Pada awalnya orang-orang Yerusalem yang meminta Hamas untuk campur tangan,โ kata Abusada.
โMasalah Palestina terpinggirkan, terutama pada masa mantan Presiden AS Donald Trump, tetapi telah menjadi masalah nomor 1 saat ini. Ada tiga sesi Dewan Keamanan. Yerusalem telah menjadi masalah penting di meja politisi, dan ini adalah hal yang baik secara politik,โ tambahnya. []





















