Achin, Gontornews — Sedikitnya 13 warga sipil tewas dalam serangan udara AS yang menargetkan rumah tempat tinggal kelompok ISIS di Provinsi Nangarhar timur, kata seorang pejabat Afghanistan.
Esmatullah Shinwari, politikus Nangarhar, mengatakan Rabu (28/9), sejumlah orang berkumpul di sebuah rumah di distrik Achin untuk menyambut seorang pemimpin suku yang kembali dari ibadah haji.
Dia mengatakan, sedikitnya enam pejuang ISIS tewas dalam insiden itu. Menurut Shinwari, 12 orang lagi cedera, termasuk pemimpin suku.
Sedangkan Mohammad Ali, kepala polisi Achin, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa korban tewas terdiri dari tiga warga sipil dan 15 pejuang ISIS.
Hazrat Hussain Mashreqiwal, jurubicara kepala polisi provinsi, mengatakan loyalis ISIS menjadi target serangan itu. Pasukan Afghanistan yang didukung oleh militer AS telah berbulan-bulan memburu para pejuang ISIS di Achin.
Jurubicara militer AS di Afghanistan, Brigadir Jenderal Charles Cleveland, menegaskan serangan udara di distrik Achin itu sebagai kontraterorisme.
Ia mengatakan, dugaan adanya korban sipil sedang diselidiki.
“Kami sedang menyelidiki semua informasi yang berhubungan dengan serangan ini,” kata Cleveland dalam sebuah pernyataan. “Adanya korban sipil merupakan tuduhan yang sangat serius.”
Tidak ada informasi apakah itu serangan oleh pesawat tak berawak atau pesawat berawak.
ISIS pertama kali muncul di Afghanistan pada tahun 2014-an. Kehadirannya seakan menantang kelompok Taliban Afghanistan yang jauh lebih besar jumlahnya di bagian timur negara itu.
Tapi para pejuang ISIS telah terus-menerus kehilangan wilayahnya dalam beberapa bulan terakhir karena serangan udara AS dan pasukan Afghanistan di Nangarhar.
Menurut pejabat Afghanistan dan AS, pergerakan ISIS di Afghanistan hanya terbatas di dua atau tiga kabupaten termasuk Achin.
Laman Aljazeera juga menyebutkan, banyaknya korban sipil dan militer yang disebabkan oleh serangan pasukan NATO telah menjadi salah satu isu yang paling diperdebatkan dalam kampanye 15 tahun melawan kelompok-kelompok bersenjata. Pemerintah banyak dikritik.
Sebuah serangan udara AS menewaskan delapan polisi Afghanistan awal bulan ini di Provinsi Uruzgan. Korban makin banyak sejak AS diberi kekuasaan yang lebih besar untuk menyerang para pejuang pemberontak pada bulan Juni. [Rusdiono Mukri]

















