Singapura, Gontornews — Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Singapura, Jumat (2/9/2022), melaporkan kasus zika yang pertama sejak Maret 2020. Mereka menjelaskan bahwa temuan kasus ini terungkap dalam buletin penyakit menular mingguan yang rilis pada 31 Agustus 2022.
Media lokal Singapura, Channel News Asia, telah menghubungi Kementerian Kesehatan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Data Badan Lingkungan Nasional (National Environment Agency/NEA) Singapura menunjukkan 666 kasus demam berdarah pada pekan yang sama.
Sebagai informasi, virus Zina ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang juga menularkan virus demam berdarah. Terhitung tanggal 29 Agustus 2022, ada 194 klaster demam berdarah aktif secara nasional di Singapura.
Situs NEA bahkan menunjukkan bahwa 75 klaster demam berdarah teridentifikasi sebagai zona merah yang berarti setiap klaster terdiri dari 10 kasus atau lebih. Meski demikian, untuk temuan kasus zika pertama dalam laporan mingguan tersebut, Kementerian Kesehatan memastikan tidak ada klaster zika yang aktif pada hari Jumat.
“Populasi nyamuk Aedes Aegypti yang tinggi serta dibarengi dengan peredaran DENV-3 yang sebelumnya tidak umum, kemungkinan akan menyebabkan jumlah kasus demam berdarah tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang,” kata NEA dalam laman resminya.
“Umumnya, zika adalah penyakit ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya. Meskipun jarang terjadi, komplikasi neurologis yang serius dan kelainan janin telah dikaitkan dengan infeksi virus zika,” sambung NEA.
Mereka yang terinfeksi virus zika umumnya mengalami sejumlah gejala seperti demam, ruam, nyeri sendi, nyeri otot, sakit kepala serta konjungtivitis atau mata merah. Gejala-gejala tersebut akan muncul dalam rentang waktu 3 hingga 12 hari setelah seorang pasien tertular virus zika yang nyamuk Aedes bawa.
Badan kesehatan dunia, WHO, sempat menyatakan wabah zika sebagai darurat kesehatan masyarakat pada Februari 2016 sebelum akhirnya mereka cabut pada November di tahun yang sama.
Kementerian Kesehatan Singapura mencatat kasus impor zika di negara Asia Tenggara tersebut terjadi pada Mei 2016. Sementara kasus lokal pertama terkonfirmasi pada Agustus 2016. Pada akhir tahun 2016, secara total, Singapura melaporkan lebih dari 450 orang yang telah terinfeksi virus zika.
Sedangkan pada tahun 2017, Kementerian juga melaporkan 67 kasus zika, dengan tiga kasus impor. Satu tahun setelahnya, yaitu pada tahun 2019, pemerintah melaporkan 12 kasus zika. [Mohamad Deny Irawan]





















