مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰخِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖۚ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۙ وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ
Artinya: “Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)
Ayat ini menjelaskan bahwa prinsip Islam beramal untuk dunia dan akhirat sekaligus. Hal tersebut dipertegas oleh firman Allah SWT dalam surat Al-Qashash ayat 77 yang artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…”
Sekaitan dengan itu, Abdullah Ibnu Umar RA menandaskan:
واحْرُثْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيشُ أَبَدًا وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوتُ غَدًا
Artinya: “Beramal dan berusahalah kamu untuk kehidupan dunia seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan beramallah kamu untuk kehidupan akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok.
(Sumber: Az-Zuhaili, Wahbah. (2016). Tafsir Al-Munir, Jilid 13. Jakarta: Gema Insani; Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad Abi Bakr Abi ‘Abdullah. (2006). Tafsir al-Qurthubi al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Cet I. Beirut: Daar Ar-Risalah).
Lebih jelas, dalam surah Asy-Syura ayat 20, Allah SWT mengutamakan orang yang menginginkan akhirat atas orang yang menginginkan dunia. Hal itu bisa dijelaskan dalam tiga hal sebagai berikut: Pertama, Allah SWT mendahulukan penyebutan orang yang menginginkan akhirat atas penyebutan yang menginginkan dunia. Allah juga menjelaskan bahwa orang yang menginginkan akhirat, ia akan ditambah melebihi dari yang ia inginkan. Adapun yang menginginkan dunia, ia hanya diberi sebagian keinginannya dari dunia dan tidak mendapatkan sedikit pun dari bagian akhirat.
Kedua, akhirat tidaklah tunai, sedangkan dunia tunai. Sesuatu yang tidak tunai menurut pandangan manusia bernilai lebih rendah daripada yang tunai, karena mereka mengatakan, sesuatu yang tunai lebih baik daripada yang tidak tunai. Oleh karena itu, di sini Allah menjelaskan dalam kaitannya dengan urusan akhirat dan dunia, yang berlaku sebaliknya. Sebab yang pertama (akhirat) pasti bertambah dan berkembang, sedangkan yang kedua berkurang.
Ketiga, ayat ini menunjukkan bahwa kemanfaatan-kemanfaatan akhirat dan dunia membutuhkan penanaman atau keinginan, usaha, dan jerih payah. Mendayagunakan tenaga untuk perkembangan dan kekal tentu lebih utama daripada ke arah berkurang, berakhir, dan sirna.
(Sumber: Az-Zuhaili, Wahbah. (2016). Tafsir Al-Munir, Jilid 13. Jakarta: Gema Insani; Fakhr al-Din al-Razi. (t.th). Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar al Kutub al-Ilmiah).
Nilai-nilai pendidikan
Ayat ke-20 dari surat Asy-Syura itu mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan. Pertama, mendidik kita akan menjadi hamba yang ikhlas mencari ridha Allah dalam urusan dunia dan akhirat. Kedua, mendidik kita agar senantiasa menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Ketiga, mendidik kita agar senantiasa beribadah kepada Allah di waktu lapang dan sempit. Keempat, mendidik kita agar mempercayakan segala urusan kepada Allah.
Sebagai orang beriman tentu kita mengetahui dan menyadari bahwa apa pun yang ada di dunia ini milik Allah, oleh karenanya mempercayakan segala urusan kepada-Nya merupakan hal yang absolut. Apalagi Allah telah menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an, yang artinya: “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 284)
Karena itu, Allah memiliki kuasa penuh atas semua yang dimiliki-Nya, termasuk terhadap diri manusia. Apakah Allah mau menghidupkan, mematikan, melapangkan rezeki atau menyempitkannya, memberi nikmat atau mengazab; semuanya itu kehendak Allah.
Dengan demikian, manusia sangat tergantung kepada kehendak Allah. Seandainya ada banyak orang hendak membunuh si fulan, tapi kalau Allah berkehendak menghidupkan dia, maka dia akan tetap hidup, sebagaimana Allah telah menyelamatkan dan membiarkan Nabi Ibrahim AS tetap hidup meskipun dia dibakar oleh Raja Namrut.
Bisnis yang tak akan pernah merugi
Allah jauh lebih berkuasa daripada raja mana pun. Menariknya, meskipun kekuasaannya begitu mutlak, meski kita semua ciptaan-Nya, namun karena Allah memiliki sifat Asy-Syakur (Maha Pembalas Budi) dan Al-Halim (Maha Penyantun), Dia tidak memerintahkan sesuatu kecuali Dia akan memberikan balas jasa kepada hamba yang Dia perintahkan. Perintah-Nya tidak gratis, tapi ada upahnya. Allah SWT berfirman:
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Artinya: “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah, kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 281)
Allah menawarkan dalam Alquran kerangka kesepakatan bisnis, berupa pinjam-meminjam dengan bunga pinjaman yang berlipat ganda serta jual-beli dengan nilai tukar yang sangat tidak sebanding; ibarat meminjam seekor nyamuk lalu mengembalikan dalam bentuk seekor kuda. Berikut ini transaksi pinjam meminjam yang Allah tawarkan:
إِن تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.“ (QS. At-Taghabun: 17).
Adapun transaksi kedua yang Allah tawarkan yaitu transaksi jual-beli atau perdagangan:
إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Alquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111)
Dengan demikian, setiap orang yang sudah baligh (mencapai usia kesempurnaan akal) merupakan pebisnis yang bertransaksi dengan Allah. Semua modal bisnisnya (kehidupannya, kesempurnaan tubuhnya, kesempurnaan akalnya, kesehatannya, kepandaiannya, perasaannya, intuisinya, dan lain-lain) berasal dari Allah. Dia tinggal memutar roda usahanya dengan modal tersebut.
Transaksi bisnisnya yaitu semua perbuatan dirinya sejak dia baligh sampai malaikat maut datang menjemputnya. Dan semua transaksi itu tercatat rapi serta detail. Tak ada secuil pun, bahkan tak ada sebesar dzarrah (atom) pun yang terluput oleh malaikat sang juru catat.
وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ
وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ
“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا “
“Siapa yang mencari ganjaran dunia akan Kami beri, dan siapa yang mencari ganjaran akhirat juga akan Kami beri.” (QS. Ali Imran: 145)
Keistimewaan berbisnis dengan Allah
Keistimewaan berbisnis dengan Allah yaitu Allah akan memberikan pahala yang tidak putus bagi mereka yang pada masa mudanya telah melakukan kebajikan. Allah SWT berfirman:
فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 148)
Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata, “(Inilah) perniagaan yang tidak akan merugi dan binasa, bahkan (inilah) perniagaan yang paling agung, paling tinggi dan paling utama, (yaitu) perniagaan (untuk mencari) ridha Allah, meraih balasan pahala-Nya yang besar, serta keselamatan dari kemurkaan dan siksaan-Nya. Ini mereka (raih) dengan mengikhlaskan (niat mereka) dalam mengerjakan amal-amal (shalih) serta tidak mengharapkan tujuan-tujuan yang buruk dan rusak sedikitpun.” (Kitab Taisirul Karimir Rahman, hlm. 689).
Lalu siapa orang yang sukses dan beruntung? Mereka yang sukses dan beruntung, yaitu: Pertama, orang-orang yang beriman. Allah SWT berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mu’minuun: 1)
Kedua, orang yang banyak mengingat Allah. Allah SWT berfirman:
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya: “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (QS. Al-Jumu’ah: 10)
Ada tiga bisnis dengan Allah yang tidak akan merugi, yaitu: membaca Alquran, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki. Allah SWT berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Alquran) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.” (QS. Fatir: 29)
Inilah balasan bagi yang orang yangmenginfakkan hartanya di jalan Allah. Allah berfirman:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Lalu bagaimana cara berbisnis dengan Allah agar meraih keuntungan dunia dan akhirat? Pertama, banyak menolong dan bersedekah. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)
Kedua, bekerja karena Allah dan mencari ridha-Nya. Allah berfirman: وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ
وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)
Ketiga, mencari rezeki halal dan baik. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 172)
Keempat, berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ
- تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. (QS. Shaff: 10-11)
Jenis-jenis bisnis yang dilarang Islam
Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dalam bukunya Al-Buyu’ Al-Munhi Anha fil Islam menerangkan jenis-jenis bisnis yang dilarang oleh Islam. Bisnis-bisnis tersebut yaitu: bisnis yang melalaikan seorang Muslim dari waktu ibadah, bisnis dengan menjual barang yang dilarang, berbisnis dengan menjual sesuatu yang akan digunakan untuk melaksanakan hal-hal yang diharamkan, berbisnis dengan menjual sesuatu yang tidak dimilikinya, dan berbisnis dengan cara yang menipu.
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisa’: 29)
Tips berbisnis menurut ajaran Islam
Ajaran Islam memberikan panduan kepada umatnya dalam berbisnis. Berikut beberapa tips dalam berbisnis. Pertama, ikhtiar dalam urusan dunia jangan sampai melalaikan kehidupan akhirat. Allah SWT berfirman:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat lalai.” (QS. Ar-Ruum: 7)
Kedua, mengikat perjanjian kerja dengan amanah. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji. (QS. Al-Ma’idah: 1)
Ketiga, senantiasa berdoa. Allah SWT berfirman: ….ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ…
“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannnya” (QS. Al Mukmin: 60)
اللّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اللّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah untuk kami bagian dari rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat (kepada-Mu). Jadikanlah untuk kami bagian dari ketaatan kepadamu yang dapat menyampaikan kami kepada surgamu. Jadikanlah untuk kami bagian dari rasa keyakinan yang dengannya Engkau meringankan kami dalam menghadapi musibah dunia. Ya Allah, berilah kenikmatan kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, jadikanlah ia tetap ada pada kami, jadikanlah pembalasan kami kepada orang yang menzalimi kami, berilah kami kemenangan atas orang yang memusuhi kami, janganlah Engkau jadikan musibah (yang menimpa) kami mempengaruhi agama kami, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar dan puncak ilmu kami, dan janganlah Engkau jadikan orang yang tidak menyayangi kami (orang kafir dan orang zalim) sebagai orang yang menguasai kami. (HR. Tirmidzi, No. 3502). []





















