Singapura, Gontornews — Pemerintah Singapura, Senin (25/7/2022), tidak merekomendasikan vaksinasi massal terhadap risiko penyakit cacar monyet. Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, menegaskan sikap pemerintah terhadap penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut.
Kebijakan ini muncul setelah WHO menetapkan status darurat kesehatan global yang membutuhkan respons internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC) terhadap penyakit cacar monyet, Jumat (22/7/2022) malam di Jenewa.
“Sampai sekarang, menimbang bahwa sifat dari penyakit yang terbatas, Kementerian Kesehatan (Minister of Health/MoH) Singapura tidak merekomendasikan vaksinasi masal cacar monyet bagi seluruh populasi karena manfaatnya tidak lebih besar dari risikonya,” kata Ong sebagaimana dilansir Channel News Asia.
“Kami akan terus memantau situasi ini dengan cermat,” sambung Ong.
Sejauh ini, Singapura telah melaporkan enam kasus cacar monyet impor dan empat kasus lokal yang telah terdeteksi. “Tidak ada bukti, mereka menularkan infeksi ke orang lain di masyarakat,” katanya.
“MoH juga mengkarantina kontak dekat mereka hingga 21 hari sejak paparan terakhir, sementara kontak berisiko lebih rendah dipantau melalui pengawasan telepon,” tambah Ong.
Lebih lanjut, Ong menjelaskan bahwa kasus cacar monyet, biasanya, menghasilkan tiga hingga empat kontak dekat yang memerlukan karantina. Kasus ini tentu saja berbeda dengan kasus Covid-19 yang dapat ‘menghasilkan’ hingga 20 perintah karantina.
Sebagai informasi, WHO mencatat lonjakan kasus infeksi cacar monyet secara global sejak awal Mei. Menariknya, penyakit yang biasanya hanya terjadi di wilayah Afrika Barat dan Tengah ini terkonfirmasi justru di luar wilayah endemiknya.
Karena itu, penetapan PHEIC pada penyakit cacar monyet ini merupakan peringatan utama WHO untuk mengatasi wabah penyakit global. [Mohamad Deny Irawan]





















