Asmat, Gontornews – Dinas kesahatan Asmat mencabut status kejadian luar biasa (KLB) campak yang terjadi di Kabupaten Asmat, Senin (5/2) malam. Meski demikian, tenaga kesehatan terus mendampingi warga yang membutuhkan bantuan kesehatan.
“Dengan memerhatikan usul Dinkes Asmat melalui surat Nomor 800/50/Dinkes/2/2018, maka saya nyatakan KLB campak telah berakhir,” jelas Bupati Asmat Elisa Kambu Senin malam (5/2) tepat pukul 20.35 WIT dalam rapat koordinasi di Posko Satgas KLB Campak dan Gizi Buruk Campak.
Pencabutan status KLB tersebut dilakukan seiring dengan menurunnnya jumlah pasien di RSUD Agats yang tinggal menyisakan 12 orang saja. Keduabelas pasien yang masih tersisa tersebut a terdiri dari 9 anak yang dirawat inap akibat gizi buruk sedangkan 3 pasien lainnya masih terkena campak.
“Kondisi dinilai makin terkendali dengan indikator vaksinasi di 224 kampung yang berada di 23 distrik,” kata Elisa dalam rilis yang diterima Gontornews.
Keputusan Elisa yang mencabut status KLB campak di Asmat dilakukan berdasarkan rekomendasi teknis kesehatan melalui Permenkes Nomor 1501 Tahun 2010. Secara teknis, Elisa melakukan evaluasi selama 20 hari terhadap pasien rawat inap sejak pertama kali ditetapkan KLB campak pada 15 Januari 2018 yang lalu.
Melalui Kemenkes, imunisasi lengkap diberikan kepada anak-anak dari usia 0-15 tahun sebanyak 17.337 anak. Saat bersamaan, ditemukan pula penderita campak sebanyak 651 anak dan 223 pasien gizi buruk. Komplikasi gizi buruk dan penderita campak turut ditemukan sebanyak 11 pasien, plus suspek campak sebanyak 25 pasien.
Hingga status KLB berakhir, tercatat anak meninggal sebanyak 72 orang. Mereka meninggal akibat campak sebanyak 66 orang dan gizi buruk 6 orang. Jumlah meninggal di RS sebanyak 8 orang sisanya ditemukan di kampung per September hingga 4 Februari 2018 dengan penyebaran merata. Pasien rujuk ke RSUD Agats ditemukan pada 20-22 Januari 2018 lalu.
Elisa berharap, meski status KLB berakhir, pendampingan ke warga dan pelayanan kesehatan terus dilakukan dalam waktu lebih lama.
“Model penanggulangan seperti di Asmat akan direplikasi tempat lain. Kami di Asmat masih memerlukan dukungan. Kita masih butuh perawat dan dokter. Kita nanti bisa duduk bersama-sama agar bisa riil,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]





















